Monthly Archives: April 2016

Pius Bere : ” Reformulasi Sanksi Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti Dalam Undang Undang Tindak Pidana Korupsi “

Senin, 25 April 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus Pius Bere, S.H.,M.Hum dari Program Doktor Ilmu Hukum dengan disertasinya yang berjudul Reformulasi Sanksi Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti Dalam Undang Undang Tindak Pidana Korupsi “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

IMG_8823 Promovendus foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Tindak pidana korupsi di lndonesia sudah terjadi secara massif, terstruktur dan meluas melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari pihak legislatif, eksekutif dan yudikatif bahkan korupsi telah merambah pada sector swasta dan menimbulkan kerugian keuangan negara dan perekonomian negara, melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Penelitian ini difokuskan pada masalah “Reformulasi Sanksi Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti Dalam Undang Undang Tindak Pidana Korupsi” sebagai upaya pengembalian kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi. Ada norma hukum yang kabur dalam ketentuan Pasal 17 dan Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999, yang terlihat dari penggunan frasa “dapat” dalam rumusan norma pasal dimaksud, sehingga penerapan pidana tambahan “Pembayaran Uang Pengganti” sesuai ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 sangat tergantung pada diskresi hakim.

Masalah yang dikaji yaitu (1) Mengapa diperlukan sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi?; (2) Bagaimana formulasi/rumusan sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi? dan (3) Bagaimana sebaiknya formulasi / rumusan sanksi pidana pembayaran uang pengganti dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi perspektif ius constituendum? Penelitian ini termasuk tipe penelitian hukum normatif, yang mengandalkan sumber bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder . Metode pendekatan yang digunakannya itu pendekatan perundang-undangan, pendekatan komparatif, pendekatan sejarah dan pendekatan filosofis.Teknik analisis bahan hukum dilakukan melalui tahapan inventarisasi, sisternatisasi, interpretasi dan evaluasi terhadap bahan hukum.

Hasil penelitian membuktikan bahwa pengaturan sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memiliki urgensitas sebagai upaya pengembalian kerugian keuangan negara. Rumusan norma sanksi pidana tambahan dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 bersifat fakultatif sehingga penerapannya tergantung pada diskresi hakim, yang berdampak sering terjadi disparitas pemidanaan yang menciderai rasa keadilan masyarakat. Penulis mengusulkan agar sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti ditetapkan sebagai salah satu jenis pidana pokok dengan formulasi/rumusan norma “wajib” diterapkan terhadap pelaku tindak pidana korupsi sebagai sarana untuk mengembalikan kerugian negara. Selain itu, Jaksa wajib menyita harta benda terpidana ketika terpidana tidak membayar uang pengganti. Demikian juga jika terpidana tidak memiliki harta benda yang cukup untuk membayar uang pengganti, maka terpidana harus dihukum dengan pidana penjara minimal selama 5 (lima) tahun penjara untuk memberikan efek jera. (pps.unud/IT)

A.A. Istri Kesumadewi : ” EVALUASI KERUSAKAN TANAH BUDIDAYA SAYURAN DAN POTENSI BAKTERI PELARUT FOSFAT DALAM MENINGKATKAN HASIL BAWANG DAUN (ALLIUM PORUM, L.) DI DESA CANDIKUNING “

Jumat, 22 April 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Ir. A.A. Istri Kesumadewi, M.Si dari Program Doktor Ilmu Pertanian dengan disertasinya yang berjudul EVALUASI KERUSAKAN TANAH BUDIDAYA SAYURAN DAN POTENSI BAKTERI PELARUT FOSFAT DALAM MENINGKATKAN HASIL BAWANG DAUN (ALLIUM PORUM, L.) DI DESA CANDIKUNING “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

IMG_8769 Promovenda foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Hubungan antara budidaya sayuran pada Andisol dataran tinggi dengan kerusakan tanah dan bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan issue penting. Oleh karena itu, sebuah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui: (I) kerusakan tanah budidaya sayuran dan perbedaan indeks kerusakan tanah antar pola tanam sayuran, (2) perbedaan total populasi dan kemampuan in vitro BPF antar pola tanam dan jenis tanaman sayuran, (3) jenis BPF terbaik, dan (4) pengaruh BPF terbaik terhadap hasil tanaman bawang daun dan jumlah pupuk P yang dapat disubstitusi.

Penelitian dilakukan dalam empat tahap percobaan untuk mencapai tujuan diatas. Percobaan tersebut adalah (I) evaluasi kerusakan tanah budidaya sayuran pada pola tanam (monokultur selada, monokultur bawang daun dan strip intercroppingi, (2), penghitungan jumlah total populasi dan kemampuan BPF dari jenis penggunaan lahan dan tanaman tersebut, (3) seleksi dan identifikasi spesies isolat BPF terbaik, dan (4) pengujiannya pada tanaman bawang daun (Allium porum, L.) dengan media tanam tanah dari ketiga pola tanam sayuran di atas. Penelitian pertama dan kedua dilakukan dengan metode survey dilanjutkan dengan analisis laboratorium, sedangkan penelitian ketiga dan keempat dirancang dengan RAL 3 ulangan pada penelitian laboratorium dan rumah kaca.

IMG_8772 Pemberian ucapan selamat kepada keluarga promovenda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya sayuran di Desa Candikuning memperbaiki sifat kimia tanah, namun menurunkan kadar air kapasitas lapang, dan berdampak negatif terhadap beberapa sifat biologi tanah. Budidaya sayuran tidak menyebabkan kerusakan tanah yang dicirikan oleh indeks positif kerusakan tanah sebesar 33,60% (monokultur selada); 32,07% (strip intercropping); dan 25,16% (monokultur bawang daun). Tanah pada pola tanam strip intercropping dan rhizosfer tanaman wortel memiliki total populasi BPF tertinggi, yaitu berturut-turut sebesar 19,91×106 dan 16,49x 106 CFU g-1 tanah. Isolat BPF terbaik 98,81% identik dengan Enterobaeter asburiae dan mampu menyubstitusi 50% (155,5 kg ha-1) kebutuhan pupuk P tanpa menurunkan hasil tanaman bawang daun pada tanah monokultur bawang daun dan strip intercropping. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah (1) budidaya sayuran memperbaiki sifat kimia tanah namun berdampak negatif terhadap sifat fisika dan biologi tanah, (2) pola tanam strip intercropping dan budidaya wortel terbaik dalam menjaga populasi BPF, (3) isolat BPF indegenus terbaik tergolong E. asburiae, dan (4) isolat tersebut menghemat penggunaan pupuk’ SP36 sebesar 50% dari dosis pupuk (155,5 kg SP36 ha-1) untuk tanaman bawang daun pada tanah monokultur bawang daun dan strip intercropping. (pps.unud/IT)

I NYOMAN SUKERNA : ” TRANSFORMASI TRADISI BARONG NGELAWANG DI KAWASAN PARIWISATA UBUD, GIANYAR, BALI “

Senin, 11 Maret 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul TRANSFORMASI TRADISI BARONG NGELAWANG DI KAWASAN PARIWISATA UBUD, GIANYAR, BALI “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Masyarakat Bali terkenal dengan keunikan berbagai tradisi keagamaan dan budayanya. Salah satu tradisi yang masih berlangsung sampai sekarang adalah pementasan barong mengelilingi desa (ngelawang). Aktivitas yang dilakukan pada setiap Hari Raya Galungan dan Kuningan serta Sasih Kanem, bertujuan untuk menetralisir kekuatan dan pengaruh negatif (sebagai penolak bala) secara ritual. Globalisasi membawa nilai-nilai baru menyentuh semua sendi-sendi kehidupan, salah satu di antaranya adalah terjadi transformasi dalam tradisi barong ngelawang. Penelitian ini bertujuan untuk membahas pola transformasi, ideologi, dan pemaknaan masyarakat terhadap tradisi barong ngelawang di kawasan pariwisata Ubud Gianyar Bali.

Penelitian yang dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan pendekatan dari berbagai aspek ini, melihat tradisi barong ngelawang sebagai sebuah teks untuk dipahami konteksnya, mengapa, dan bagaimana semua itu dilakukan. Sebagai alat analisis dalam rangka mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian ini digunakan empat teori, yaitu teori praktik sosial, teori ideologi, teori dekonstruksi, dan teori semiotika. Pengumpulan data dalam penelitian ini didapat melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Penelitian dengan mengaplikasikan metode deskriptif interpretatif ini, hasil kajiannya menunjukkan sebagai berikut. (1) Pola transformasi dalam tradisi barong ngelawang di Ubud selain dari sakral ke sekuler, juga terdapat pola transformasi dari sekuler ke sakral. Pola transformasi barong ngelawang juga terjadi dalam aktivitas ngelawang utamanya yang terkait dengan dimensi ruang dan waktu; (2) Ideologi yang mendasari dalamaktivitas barong ngelawang sakral maupun sekuler di Ubud terdapat dominasi landasan ideologi yang berbeda-beda. Kegiatan barong ngelawang sakral, landasan ideologi yang kuat adalah ideologi religi. Dalam aktivitas barong ngelawang sekuler didominasi oleh ideologi pasar; dan (3) Nilai-nilai yang dapat diungkap sehubungan dengan pemaknaan terhadap aktivitas barong ngelawang di Ubud dalam konteks ideologis adalah makna agama dan makna kesenian. Dalam konteks struktur sosial, makna stratifikasi sosial, makna pembagian kerja, dan makna pendidikan. Makna ekonomi dalam konteks infrastruktur . Ada dua temuan dalam penelitian ini, yiatu (1) Pola transformasi tradisi barong ngelawang di Ubud selain dari sakral ke sekuler juga ada yang dari sekuler ke sakral. Sesuai dengan teori modernisasi yang secara umum menganggap hal yang sakral cenderung menjadi sekuler atau terjadi desakralisasi. Pola transformasi barong ngelawang di Ubud menunjukkan fenomena yang terjadi tidak seperti itu. (2) Barong ngelawang di Ubud telah mengalami transformasi dari sekala yang kecil ke sekala yang lebih luas. Pada awalnya barong ngelawang berdimensi religiusitas dan berkesenian, lalu menuju dimensi sosial khususnya identitas. Oleh karena itu, jumlah barong di Ubud menjadi semakin bertambah secara kuantitas. (pps.unud/IT)

I GEDE YUDARTA : ” REPRODUKSI SENI KEKEBYARAN DI KOTA MATARAM NUSA TENGGARA BARAT “

Jumat, 8 Maret 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus I Gede Yudarta, S.SKar., M.Si dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul REPRODUKSI SENI KEKEBYARAN DI KOTA MATARAM NUSA TENGGARA BARAT “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.

IMG_8661 Promovendus foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Seni kakebyaran merupakan seni pertunjukan beridentitas budaya Bali yang sangat populer tidak saja di Bali, namun sudah meluas menembus ke wilayah propinsi, negara- negara di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, penyebaran seni kakebyaran terjadi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa di Kota Mataram lewat jargon “Maju, Religius dan Berbudaya”, menegaskan orientasi pembangunan di Kota Mataram mempergunakan pendekatan nilai-nilai keagamaan yaitu Islam dan mengurangi simbol agama dan budaya lain. Situasi seperti itu, menjadi tantangan bagi masyarakat etnik Bali untuk mengembangkan seni, tradisi dan budaya khususnya pengembangan seni kakebyaran.

IMG_8662 Pemberian ucapan selamat kepada keluarga promovendus

Fenomena ini menjadi ranah studi budaya yang sangat menarik diteliti secara lebih mendalam. Terdapat tiga permasalahan terkait dengan fenomena tersebut yaitu: 1) bentuk dan fungsi reproduksi seni kakebyaran, 2) mengapa terjadi reproduksi seni kakebyaran serta 3) bagaimanakah dampak dan makna reproduksi seni kakebyaran terhadap masyarakat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan metode kualitatif sesuai dengan kaidah penelitian ilmiah dan paradigma kajian budaya. Untuk menganalisis permasalahan tersebut dipergunakan tiga teori diantaranya teori reproduksi budaya, teori identitas dan teori semiotika. Ketiga teori tersebut dipergunakan secara eklektis untuk membahas substansi pokok bahasan. Hasil analisis pembahasan dari rumusan permasalahan dideskripsikan sebagai berikut: pertama, bentuk reproduksi seni kakebyaran terdiri dari musikalitas, bentuk dan instrumen, tata penyajian, serta fungsi. Kedua, beberapa aspek penyebab terjadinya reproduksi seni kakebyaran, seperti: budaya, komunikasi budaya dan ekonomi. ketiga, dampak dan makna reproduksi seni kakebyaran yaitu: spiritual, sosio-kultural, dampak ekonomis, makna astetikiartistik,makna edukatif dan makna kultural. (pps.unud/IT)

Penerimaan Mahasiswa Baru Program Pendidikan Dokter Spesialis ( Program Studi Baru ) melalui Seleksi Program Profesi dan Pascasarjana Semester Ganjil Tahun 2016

prodibaru

Informasi Pendaftaran Wisuda UNUD Periode 117 Tahun 2016

wisuda