Monthly Archives: January 2016

Gede Santanu : ” PERANAN PEMERINTAH, KOMPETENSI SUMBER DAYA, DAN BUDAYA LOKAL TERHADAP KINERJA DAN DAYA SAING USAHA INDUSTRI KERAJINAN KAYU DI WILAYAH SARBAGITA PROVINSI BALI

Rabu, 27 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus Gede Santanu, SE.,MM dari Program Doktor Ilmu Ekonomi dengan disertasinya yang berjudul PERANAN PEMERINTAH, KOMPETENSI SUMBER DAYA, DAN BUDAYA LOKAL TERHADAP KINERJA DAN DAYA SAING USAHA INDUSTRI KERAJINAN KAYU DI WILAYAH SARBAGITA PROVINSI BALI. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

IMG_7248 Promovendus foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Modal sosial semakin mengemuka dewasa ini sebagai penggerak dunia usaha khususnya untuk usaha berskala kecil dan menengah. Modal sosial melalui pendekatan budaya lokal dewasa ini menjadi faktor penentu dalam membangun usaha kecil dan  menengah, karena keterbatasan modal dan jaringan pasar dapat diperkuat melalui pengembangan human capital yaitu kebersamaan dalam membangun jaringan pasar dan network bisnis melalui kebersamaan.

DiMaggio and Powell (2001) menggagas tentang peran modal sosial dalam menggerakkan usaha kecil dan menengah dalam membangun network dan perluasan pangsa pasar ekspor. Melalui pengembangan modal sosial yang tercakup di dalamnya adalah penguatan network (network quality), pengembangan trust sebagai model komunikasi yang transparan dan saling percaya satu sama lainnya dalam membangun komitmen kepentingan pengembangan bisnis bersama, serta penguatan komunitas dunia usaha melalui common share dalam kebersamaan menyatukan pandangan visi dan misi perusahaan yang dikenal sebagai norma, adalah komponen budaya lokal yang dapat dibangkitkan dalam rangka mendorong peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah termasuk usaha kerajinan kayu di wilayah Bali yang menjadi fokus studi penelitian ini.

Ketika budaya lokal berhasil dibangkitkan sebagai human capital yang bernilai tambah pada usaha kerajinan kayu, maka pada tahap berikutnya diharapkan dapat didorong dengan perumusan kebijakan pemerintah yang tepat, sehingga kehadiran pemerintah daerah menjadi stimulant yang akan memperkokoh keberadaan budaya lokal sebagai pemicu pengembangan daya saing usaha kerajinan. Dalam model gagasan yang dikembangkan oleh dunia usaha ditingkat awal berusaha membangun kemandirian melalui proses pengkaitan kerja sama dalam  kebersamaan, merumuskan langkah bersama, membangun jaringan produksi dan pangsa pasar berorientasi ekspor. Tahap kedua dari model yang dikembangkan, adalah mengundang kehadiran pemerintah sebagai fasilitator dan pendampingan dalam rangka penguatan modal sosial melalui pendekatan budaya lokal yang telah berkembang tumbuh di tingkat awal pembinaan. DiMaggio and Powell (2001) menggagas keterpaduan antara konsep RB V dengan konsep teori new institutional yang memfokuskan kepada peranan kelembagaan dalam membentuk perilaku kemasyarakatan. Cara pandang ini menjadi relevan dengan kondisi IKM di Indonesia, karena perubahan yang terjadi atas kinerja usaha mereka tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan kondisi budaya, kepentingan politik dan kondisi dinamis sosial kemasyarakatan.

                Keterbaruan dari penelitian ini adalah menyertakan peranan modal sosial melalui pendekatan budaya lokal dalam rangka membangun peningkatan daya saing IKM di wilayah Sarbagita Provinsi Bali. Modal sosial dalam penelitian ini diartikan sebagai potensi yang terdapat pada Budaya Lokal. Setiap budaya memiliki potensi kebersamaan (Putnam, 1978). (pps.unud/IT)

A.A. Kade Sri Yudari : ” PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP MITOS RATU KIDUL DI PESISIR BALI SELATAN, KAJIAN WACANA NARATIF “

Jumat, 22 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Dra. A.A. Kade Sri Yudari, M.Si dari Program Doktor Linguistik dengan disertasinya yang berjudul PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP MITOS RATU KIDUL DI PESISIR BALI SELATAN, KAJIAN WACANA NARATIF. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Berbagai gerakan spiritual muncul di Bali sebagai reaksi terhadap dunia modern yang menekankan pada hal-hal yang bersifat profan. Fenomena ini memberi indikasi telah terjadi perubahan sosial, baik dalam persepsi maupun pola pikir masyarakat di Bali. Untuk meraih peningkatan dan kesempurnaan religius, masyarakat mulai mencari jalan yang lebih praktis. Fenomena menarik tentang keberagaman dewasa ini, terlihat dari perhatian masyarakat terhadap dunia spiritual melalui model-model kearifan lokal yang dipandang berguna untuk mengatasi berbagai krisis sosial. Salah satu dari fenomena yang menjadi fokus kajian adalah wacana tentang Ratu Kidul (RK) di Pesisir Bali Selatan. Oleh karena itu,judul disertasi ini, “Persepsi Masyarakat Terhadap Mitos Ratu Kidul di Pesisir Bali Selatan, Kajian Wacana Naratif.” Ada empat rumusan masalah yang dikaji yakni; (a) bagaimanakah struktur wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan?; (b) bagaimanakah fungsi wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan?; (c) apakah makna wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan?; (d) bagaimanakah persepsi masyarakat dan implikasi wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan?

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan pragmatis, Penentuan informan dilakukan dengan sistem snow ball sampling dengan menentukan informan kunci terlebih dahulu, sedangkan untuk menjaring informasi sebanyak-banyaknya digunakan sistem  purposive sampling. Pengumpulan data melalui teknik observasi partisipasi, dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan metode deskriptif-naratif (wacana naratif) dan interpretatif dengan landasan teori yang sudah teruji antara lain: teori wacana naratologi; teori semiotika, teori mitos/mitologi, dan teori persepsi. penyajian data menggunakan cara informal didukung dengan cara formal. Hasil penelitian menunjukkan: struktur, fungsi dan makna wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan, meliputi; struktur formal dan struktur naratif yang terdiri atas aspek instrinsik dan ekstrinsik(geografi, histori, dan religi). Fungsi mitos RK meliputi fungsi wacana dan fungsi sosial, demikian juga makna mitos RK meliputi makna wacana dan makna sosial. Persepsi masyarakat terhadap wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan berbeda-beda. Ada tiga kelompok masyarakat pemuja yang dipengaruhi oleh faktor Ipoleksosbud. Implikasi wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan terhadap masyarakat, dapat mengubah sikap, perilaku, cara pandang dan alih profesi. Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan merupakan kearifan lokal yang diimplementasikan melalui tradisi ritual ber-yadnya dengan tujuan penghormatan terhadap penguasa ‘laut’ melalui gerakan pelestarian sumber-sumber mata air. Wacana mitos RK terdiri atas elemen-elemen pendukung, seperti: teks verbal, dan non verbal yang meliputi; lukisan, patung/arca, gedong, ritual, doa, dan atribut ritual lainnya. Elemen-elemen itu membentuk wacana mitos RK yang diyakini kebenarannya. (pps.unud/IT)

Ni Luh Anik Puspa Ningsih : ” PENGARUH VARIABLE NONKEUANGAN TERHADAP KEPUTUSAN PENDANAAN DAN KINERJA KEUANGAN (Studi pada Industri Kecil Menengah Unggulan di Provinsi Bali) “

Kamis, 21 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Ni Luh Anik Puspa Ningsih, SE.,MM dari Program Doktor Ilmu Manajemen dengan disertasinya yang berjudul PENGARUH VARIABLE NONKEUANGAN TERHADAP KEPUTUSAN PENDANAAN DAN KINERJA KEUANGAN (Studi pada Industri Kecil Menengah Unggulan di Provinsi Bali). Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

IMG_7061 Promovenda foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji serta Rektor Universitas Warmadewa setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan pengaruh Budaya Organisasi terhadap Keputusan Pendanaan; (2) menjelaskan pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Keuangan; (3) menjelaskan pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap Kinerja Keuangan; (4) menjelaskan pengaruh Orientasi Kewirausahaan terhadap Keputusan Pendanaan; (5) menjelaskan pengaruh Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Keuangan.

Penelitian nn dilakukan pada Industri Kecil Menengah (IKM) Unggulan di Provinsi Bali yang terdiri dari Industri Kayu dan Kerajinan Kayu serta Industri Tekstil dan Produk Tekstil. Populasi penelitian ini terdiri dari 173 unit usaha. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara random yaitu stratified proportional random sampling dan diperoleh sampel sejumlah 121 unit usaha. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dilengkapi dengan pendekatan kualitatif khususnya tentang variabel Budaya Organisasi yang digali dari konsep lokal Bali yaitu Catur Purusa Artha. Penelitian ini juga dilengkapi dengan indepth interview untuk mengkonfirmasi keterkaitan Budaya Organisasi terhadap Keputusan Pendanaan dan Orientasi Kewirausahaan terhadap Keputusan Pendanaan dengan 7 (tujuh) orang informan kunci. Analisis data dilakukan dengan menggunakan PLS (Partial Least Square) Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Budaya Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pendanaan; (2) Budaya Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan; (3)Keputusan Pendanaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan; (4) Orientasi Kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pendanaan dan (5) Orientasi Kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Temuan penelitian ini adalah.Orientasi kewirausahaan sebagai variabel non keuangan memiliki impact yang lebih besar dalam meningkatl\an Keputusan Pendanaan dan Kinerja Keuangan daripada impact dari Budaya Organisasi, pada IKM Unggulan di Provinsi Bali. (pps.unud/IT)

Novena ade fredyarini soedjiwo : ” MITOS BADAWANGNALA YANG DILISANKAN DI PULAU SERANGAN DENPASAR SELATAN “

Rabu, 20 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Novena ade fredyarini soedjiwo, SS.,M.Hum dari Program Doktor Linguistik dengan disertasinya yang berjudul TRADISI MITOS BADAWANGNALA YANG DILISANKAN DI PULAU SERANGAN DENPASAR SELATAN. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

IMG_7010 Promovenda foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Mitos sebagai pesan bahasa dapat membenahi dan memengaruhi kehidupan masyarakat menjadi harmonis dan sejahtera. Akan tetapi perkembangan zaman, dalam proses kehidupan menimbulkan perubahan pola perilaku. Keseimbangan alam secara perlahan mulai terhegemoni karena kebutuhan manusia tidak pernah puas. Pengaruh kehidupan modern yaitu, reklamasi sehingga menimbulkan rekonstruksi pola budaya. Made Mudana Wiguna sebagai tokoh adat berkewajiban untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di Desa Serangan. Dia bersama tokoh masyarakat mendirikan Pura Batu Api, sebagai kekuatan dan keyakinan dalam kebijakan ritual untuk menciptakan Tri Hita Karana. Penelitian ini menjelaskan rumusan masalah struktur teks mitos, fungsi, makna, dan pewarisan mitos Badawangnala di Pulau Serangan. Tujuannya untuk menganalisis struktur teks mitos, memahami fungsi, mengungkap makna, dan merumuskan pewarisan mitos Badawangnala yang dilisankan di Pulau Serangan.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori wacana naratif, teori mitologi, teori fungsi, teori transformasi, dan teori semiotika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis secara deskriptif-kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer berasal dari informan yang diambil secara purposif dan data sekunder dari studi dokumen. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis struktur teks diawali dari teks mitos Badawangnala yaitu, Adiparwa kemudian Watugunung, dan teks yang dilisankan oleh Made Wiguna Mudana. Teks memiliki keterkaitan dengan unsur intrinsik kebahasaan yang membangun mitos Badawangnala di Pulau Serangan yaitu pada penokohan. Analisis fungsi mengungkap fungsi dasar penciptaan teks lisan Badawanala, fungsi sebagai inspirasi pendirian  Pura Batu Api, fungsi sosial sebagai bentuk protes atas arogansi, fungsi pendidikan, fungsi kekerabatan, fungsi institusi, dan fungsi religius. Analisis makna mengungkap makna yaitu, makna sosial penguatan sikap dan perilaku budaya, makna perlawanan, makna filosofis, dan makna simbolik. Analisis pewarisan merumuskan pengorganisasian, pemberdayaan, pendokumentasian, dan pelestarian. Temuan pada penelitian ini adalah penguatan sikap dan perilaku budaya masyarakat Serangan dalam mempertahankan hak-haknya, generasi muda mampu mengedepankan kebersamaan dalam masyarakat melalui ritual, yaitu odalan. Terbentuknya Pura Batu Api sebagai kekuatan dan keyakinan dalam kebijakan ritual. (pps.unud/IT)

Gede Yoga Kharisma Pradana : ” TRADISI MAKOTEK DI DESA MUNGGU, BADUNG PADA ERA GLOBAL “

Senin, 18 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus Gede Yoga Kharisma Pradana, S.Sos.,Msi dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul TRADISI MAKOTEK DI DESA MUNGGU,  BADUNG PADA ERA GLOBAL. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Makotek merupakan sebuah tradisi lisan yang dimaknai sebagai ritual tolak bala bagi masyarakat di Desa Munggu, Badung. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada setiap hari raya Kuningan. Hingga pada era global, tradisi Makotek yang melibatkan banyak pihak dan komponen budaya masih tetap dilaksanakan masyarakat di Desa Munggu. Hal itu merupakan tantangan bagi kehidupan mereka yang tidak menutup diri dari pengaruh modernisasi. Secara ideologis, kehidupan masyarakat pada era global akan cenderung sibuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar sesuai dengan zamannya. Hal itu menyebabkan mereka menempatkan ekonomi kapitalistik pada posisi sentral dan dominan dalam jaringan sosialnya. Dalam kehidupannya pun mereka akan cenderung melibatkan konstruksi pasar kapitalis lengkap dengan rangkaian relasi sosial, aliran komoditas, modal, teknologi, dan ideologi dari berbagai budaya belahan dunia. Kondisi itu membuat mereka sibuk mengejar dan berkompetisi memenangkan pertarungan dalam memperoleh keuntungan finansial. Namun di tengah-tengah kesibukannya mengarungi kehidupan pada era global, masyarakat Desa Munggu tetap melaksanakan tradisi Makotek. Mereka seakan tidak terpengaruh dengan adanya stigma bahwa tradisi Makotek identik dengan tindakan irasional, ortodok, dan lain sebagainya. Bahkan untuk itu mereka harus mengorbankan waktu, uang, dan lain sebagainya. Tetapi mereka tetap melaksanakan tradisi tersebut. Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan.

Di Bali, banyak terdapat tradisi ritual tolak bala yang hingga pada era global masih tetap lestari. Beberapa di antaranya ada tradisi Geret Pandan di Desa Tenganan, Karangasem, tradisi Ngusaba Dangsil di Desa Sulahan, Bangli, tradisi Ngusaba Nini di Karangasem, tradisi Perang Tipat di Desa Kapal, tradisi Omed-omedan di Desa Sesetan, Badung, tradisi Masuryak di Desa Bongan, Tabanan, tradisi Makotek di Desa Munggu, Badung, dan lain sebagainya. Namun di antara semua tradisi tersebut tradisi Makotek yang paling menarik untuk dikaji. Hal itu disebabkan karena hingga pada era global masyarakat Desa Adat Munggu yang terdiri atas tiga belas banjar, berjumlah kurang lebih 2000-an orang penduduk bisa melaksanakan tradisi ritual tolak bala tersebut secara berkelanjutan. Menurut tetua Desa Adat Munggu, pelaksanaan tradisi Makotek pada tahun 1920-an pemah ditiadakan. Karena alasan politik, pemerintah Belanda yang tengah menguasai Bali saat itu melarang masyarakat Desa Munggu melaksanakan tradisi tersebut. Namun, tidak berselang lama dikatakan bahwa masyarakat Desa Munggu mengalami musibah. Banyak warga mendadak sakit kemudian meninggal. Mereka meyakini bahwa kejadian itu ada kaitannya dengan ketidak dilaksanakannya tradisi Makotek. Atas kebijakan pemerintah Belanda, masyarakat Desa Munggu diijinkan kembali melaksanakan tradisi Makotek dengan syarat mereka tidak menggunakan tombak lagi dalam pelaksanaan tradisi ritual -tersebut, Sejak saat itu masyarakat Desa Munggu mengganti senjata tombak dengan kayu pulet dalam setiap pelaksanaan tradisi Makotek. Sebagai masyarakat yang telah maju dan berkesadaran kritis semestinya masyarakat Desa Munggu tidak lagi melaksanakan tradisi Makotek yang irasional itu untuk menyikapi permasalahan wabah penyakit pada era global. Tetapi kenyataannya, mereka tetap melaksanakan tradisi tersebut walaupun kini budaya mereka telah maju.

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan memahami secara benar tentang permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan tradisi Makotek di Desa Munggu pada era global meliputi hal-hal yang melatari, bagaimana mereka melaksanakan tradisi tersebut pada era global, apa relevansi, dan implikasinya bagi mereka hingga pada era global tetap melaksanakan tradisi Makotek.

Secara akademis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai referensi bagi dunia ilmu pengetahuan khususnya terkait dengan proses transmisi budaya yang berimplikasi bagi kelestarian budaya Bali pada era global. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan ditemukan model formatif pelaksanaan tradisi Makotek pada era global sebagai konsep untuk merevitalisasi modal budaya serupa yang terpuruk pada era global, sebagai dokumentasi tertulis, referensi bagi Dinas Kebudayaan Bali, Balai Pelestarian Budaya Tradisional Bali, dalam rangka pelestarian dan pengembangan tradisi Makotek berbasis kekuatan kultural kolektif pada era global. (pps.unud/IT)

Imaculata Fatima : ” MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN AGROEKOWISATA DI KABUPATEN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR “

Jumat, 15 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Dra. Imaculata Fatima, M.M.A dari Program Doktor Ilmu Pertanian dengan disertasinya yang berjudul MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN AGROEKOWISATA DI KABUPATEN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

IMG_6924 Promovenda foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Pembangunan ekonomi suatu wilayah sepantasnya diawali dengan pembangunan komponen modal sosial. dan modal manusia. Modal sosial sendiri diukur melalui partisipasi dalam kegiatan sosial sehingga dapat mengurangi kemiskinan. Penekanan tingkat kemiskinan ini dilaksanakan melalui ekstemalitas positif (transfer pengetahuan dan teknologi) yang mempengaruhi produktivitas rumah tangga (Alesina dan Ferrara, 1999).

Setiap program pengembangan pembangunan diperlukan sumber- daya manusia berkualitas untuk mencapai tujuannya. Sumber daya manusia yang dimaksud mencakup modal sosial untuk memercepat proses dan mutu hasil pengembangan pembangunan. Mengacu pada norma-norma dan nilai-nilai bersama, asosiasi antarmanusia, menghasilkan kepercayaan dan memiliki nilai ekonomi yang besar dan terukur (Fukuyama, 1996). Kabupaten Ende merupakan salah satu destinasi singgah wisata layar dan titik labuhnya ditempatkan di Kecamatan Maurole. Terpilihnya lokasi tersebut karena kondisi laut dan pantai yang tenang, sejuk, dan indah. Selain itu terdapat berbagai atraksi wisata pertanian yang juga menarik untuk dilayankan pada wisatawan. Kehadiran wisatawan adalah peluang bagi masyarakat Kabupaten Ende, yakni masyarakat dapat melakukan hubungan dengan wisatawan, sesama petani, dan para stakeholder lainnya baik skala lokal, nasional, maupun intemasional. Hubungan sosial tersebut diharapkan dapat berlangsung timbal balik, rasa saling percaya, membentuk jaringan sosial yang mengikat satu sama lain dalam pengembangan atraksi wisata menjadi agroekowisata, yang pada gilirannya dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat. Namun faktanya selama beberapa kali kunjungan dalam persinggahan sejak tahun 2007, atraksi wisata yang dilayankan tidak mengalami perubahan yang berarti baik bagi wisatawan maupun bagi masyarakat lokal. Agar atraksi wisata tersebut memiliki nilai, maka perlu dilakukan inovasi dengan mengembangkan atraksi wisata menjadi agroekowisata sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian.

Di Kabupaten Ende. aktivitas agroekowisata yang memanfaatkan berbagai modal pernah dilakukan, dan mengalami kemandekan. Kemandekan terjadi karena dalam aktivitas agroeko-wisata, petani yang terlibat tidak saling percaya, tidak taat dengan norma yang ada, interaksi dan komunikasi terputus dan tidak kondusif, serta tak ada partisipasi dari satuan kerja perangkat daerah yang ditunjuk (Fatima, 2011). Berdasarkan kondisi tersebut, modal sosial perlu dijadikan pertimbangan dalam pengembangan agroekowisata. Permasalahan yang perlu dikemukakan adalah bagaimanakah pengaruh modal sosial dan perilaku, serta perumusan model modal sosial, dalam pengembangan agroekowisata di Kabupaten Ende.

Tujuan penelitian ini sebagai berikut.

  1. Untuk menganalisis pengaruh modal sosial terhadap perilaku dalam pengembangan agroekowisata di Kabupaten Ende.
  2. Untuk menganalisis pengaruh modal sosial dalam pengembangan agroekowisata di Kabupaten Ende.
  3. Untuk menganalisis pengaruh perilaku petani dalam pengembangan agroekowisata di Kabupaten Ende.
  4. Untuk merumuskan model modal sosial dalam pengembangan agroekowisata di Kabupaten Ende. (pps.unud/IT)

Ni Wayan Trisnawati : ” PEMANFAATAN TEPUNG BEKATUL DAN TEPUNG LABU KUNING SEBAGAI BAHAN KERIPIK SIMULASI KAYA SERAT DAN ANTIOKSIDAN “

Rabu, 13 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Ir. Ni Wayan Trisnawati, M.M.A dari Program Doktor Ilmu Pertanian dengan disertasinya yang berjudul PEMANFAATAN TEPUNG BEKATUL DAN TEPUNG LABU KUNING SEBAGAI BAHAN KERIPIK SIMULASI KAYA SERAT DAN ANTIOKSIDAN. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

IMG_6878 Promovenda foto bersama dengan Rektor, Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Camilan adalah makanan ringan yang dikonsumsi antara waktu makan utama. Keripik adalah salah satu jenis camilan yang diolah dalam bentuk utuh, sehingga tidak bisa dilakukan pencampuran dengan bahan lain. Salah satu jenis pengolahan keripik yang dapat dilakukan penambahan bahan lain dalam proses pengolahannya dikenal dengan keripik simulasi. Keripik simulasi dapat diolah menggunakan tepung bekatul (TB) dan tepung labu kuning (TLK), karena memiliki kandungan gizi tinggi, mengandung serat pangan dan antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan jawaban tentang nilai gizi TB varietas padi Ciherang, Cigeulis, dan Inpari 13 pada metode pengeringan oven dan oven microwave (OM); mengetahui perbedaan metode pengeringan oven dan OM; mengetahui proporsi penambahan TB dengan TLK terhadap kandungan gizi keripik simulasi; mengetahui perbedaan metode penggorengan OFF dengan VF pada keripik simulasi; mengetahui aktivitas antioksidan keripik simulasi secara in vivo; dan mengetahui IG keripik simulasi.

Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama : pengeringan TB dan TLK. Tahap kedua: formulasi TB dengan TLK dan perlakuan metode pengeringan dan penggorengan keripik simulasi. Tahap ketiga : menguji aktivitas antioksidan keripik simulasi secara in vivo dan mengukur IG keripik simulasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa terdapat perbedaan antara metode pengeringan oven dan OM terhadap kadar air, β-karoten, kapasitas antioksidan, lC 50, dan rendemen TLK. Hasil terbaik metode pengeringan TB dengan menggunakan metode OM pada varietas padi Cigeulis. Keripik simulasi perlakuan penambahan 15 TB dan 30 TLK dapat diterima secara sensori, dengan kandungan β-karoten sebesar 2,81 ug/g, vitamin E, kapasitas antioksidan, lC 50, IDF, SOF, dan TOF masing-masing 0,59 mg/100 g; 668,52 ppm GAEAC; 145,19 mg/ml.; 6,62  db; 4,02  db; dan 10,64  db. Perlakuan pengolahan keripik simulasi metode pengeringan OM dan penggorengan VF lebih baik dibandingkan dengan pengeringan metode oven dan penggorengan OFF. Perlakuan 1,5 gl200g bb ekstrak keripik simulasi dapat menurunkan kadar MOA dan CRP hewan coba masing-masing, sebesar 55,94 dan 88, I 0. Indeks glikemik keripik simulasi 51 (rendah) dengan beban glikernik (BG) sedang (13).

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan: I) TB padi varietas Cigeulis memiliki kapasitas antioksidan dan serat pangan lebih tinggi dibandingkan bekatul padi varietas Ciherang dan Inpari 13; 2) metode pengeringan OM pada labu kuning menggunakan daya 300 watt selama 4 jam dan pada bekatul menggunakan daya 200 watt selama 15 menit dapat meminimalisasi kehilangan antioksidan dan serat pangan; 3) formula keripik simulasi menggunakan 15 TB dengan 30 TLK merupakan formula terbaik; 4) metode pengeringan OM dan penggorengan VF merupakan metode terbaik dan secara sensori bisa diterima; 5) Perlakuan 1,5 g/200g bb ekstrak keripik simulasi dapat menurunkan kadar MDA dan kadar CRP; dan 6) Keripik simulasi tergolong pangan ber IG rendah dengan BG sedang. (pps.unud/IT)

I Wayan Sujana : ” RESISTENSI MASYARAKAT DESA CANDIKUNING KECAMATAN BATURITI, KABUPATEN TABANAN, BALI TERHADAP PIHAK MANAJEMEN OBJEK WISATA KEBUN RAYA EKA KARYA BALI “

Senin, 11 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus Drs. I Wayan Sujana, MM dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul RESISTENSI MASYARAKAT DESA CANDIKUNING KECAMATAN BATURITI, KABUPATEN TABANAN, BALI TERHADAP PIHAK MANAJEMEN OBJEK WISATA KEBUN RAYA EKA KARYA BALI “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Masyarakat Desa Candikuning tidak ikut mengelola objek wisata Kebun Raya Eka Karya Bali, namun mereka melakukan resistensi, yaitu menuntut pembagian retribusi terhadap pihak manajemen objek wisata tersebut. Bertitik tolak dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui, memahami, dan menjelaskan latar belakang, strategi, dan implikasi resistensi masyarakat Desa Candikuning terhadap pihak manajemen objek wisata Kebun Raya Eka Karya Bali.

IMG_6815 Promovendus foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Teori resistensi, teori semiotika, teori konflik, dan teori multikulturalisme diacu dalam landasan teori untuk penelitian ini. Secara metodologis penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kualitatif, emik, etik, dan holistik, sedangkan pemilihan inforrnan dilakukan secara purposif dan snowball. Teknik wawancara dan pcngamutun digunakan untuk memperoleh data kualitatif yang sclunjutnyn dianalisis secara deskriptif, interpretatif, dan dckonstruktif sedangkan hasil analisis data disajikan secara ilustratif dan naratif. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa resistensi masyarakat Desa Candikuning dilatari oleh ideologi geopolitik, sehingga mereka memandang objek wisata Kebun Raya Eka Karya Bali sebagai bagian dari wilayah desa mereka. Dalam keadaan demikian, pihak manajemen objek wisata Kebun Raya Eka Karya Bali dipandang pantas memberikan pembagian retribusi kepada masyarakat Desa Candikuning. Namun karena pihak manajemen objek wisata Kebun Raya Eka Karya Bali tidak memberikan pembagian retribusi bahkan bersikap kurang bersahabat, dalam arti kurang bijaksana, kurang peduli/abai, menindas, imperialistik terhadap masyarakat Desa Candikuning, maka masyarakat Desa Candikuning memandang resistensi mereka terhadap pihak manajemen objek wisata Kebun Raya Eka Karya Bali merupakan suatu kewajaran. Ada berbagai macam langkah yang dilakukan dalam resistensi tersebut, karena dianggap strategis untuk mencapai tujuannya. Dalam pandangan dan langkahnya itu tampak terimplikasi pemikiran oposisi biner, perang wacana antartokoh Desa Candikuning, dan permainan politik identitas. Sementara itu, resistensi mereka itu juga telah berimplikasi dalam manajemen objek wisata Kebun Raya Eka Karya Bali, yakni berupa wacana pihak manajemen objek wisata itu tentang pengelolaan parkir, pemeliharaan ketertiban dan kebersihan lingkungan serta wacana tentang manfaat objek wisata itu bagi masyarakat setempat. (pps.unud/IT)

I Made Patera : ” Pariwisata Dan Kemiskinan Di Kabupaten Badung, Bali “

Rabu, 6 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus I Made Patera, SE.,MM dari Program Doktor Pariwisata dengan disertasinya yang berjudul Pariwisata Dan Kemiskinan Di Kabupaten Badung, Bali. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.

IMG_6720 Promovendus foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Fenomena pariwisata dan kemiskinan telah ada sejak lahirnya peradaban manusia dan sejak tahun 1980- an telah menjadi perhatian serius para praktisi dan cendikiawan diberbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Kemiskinan tidak hanya dipahami sebagai sebuah pemahaman konsep abstrak, tetapi sebagai realitas terhadap ketidakadilan ekonomi dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia di berbagai negara kaya maupun negara miskin di dunia.

Tujuan penelitian adalah: 1) menganalisis pengaruh perkembangan pariwisata terhadap kinerja perekonomian; 2) menganalisis pengaruh kinerja perekonomian terhadap pengentasan kemiskinan; 3) menganalisis pengaruh perkembangan pariwisata terhadap pengentasan kemiskinan; dan 4) merumuskan strategi untuk meningkatkan peran pariwisata dalam pengentasan kemiskinan di Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif didukung data sekunder dan pendekatan kualitatif dengan data primer didapat melalui observasi, wawancara mendalam (depth-interview) dan diskusi kelompok terfokus (jocuss group discussion). Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Badung Selatan sebagai daerah terkaya di Bali dari hasil pariwisata.

Penelitian ini mengacu kepada Teori Neoliberalisme sebagai Grand Theory, didukung oleh teori Sosial Demokrat dan Teori Pemberdayaan. Kemiskinan menurut Neoliberalisme adalah persoalan individu dan kesejahteraan hanya bisa dicapai dengan pertumbuhan ekonomi melalui mekanisme pasar bebas. Menurut Sosial Demokrat kemiskinan muncul akibat dari ketidak adil an terhadap tatanan kehidupan masyarakat sebagai faktor dan Teori Pemberdayaan menekankan pada pendekatan untuk rneningkatkan kemampuan pribadi atau kelompok masyarakat untuk melepaskan diri menuju kepada kemandirian secara ekonomi, sosial budaya dan politik. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data hasil penelitian untuk mudah dibaca dan analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yaitu dengan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian membuktikan bahwa: 1) perkembangan pariwisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perekonomian; 2) kinerja perekonomian berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan; dan 3) perkembangan pariwisata berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan, dan 4) untuk meningkatkan peran pariwisata dalam pengentasan kemiskinan dilakukan dengan menganalisis kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan dibuat dalam satu strategi berbasiskan SWOT. Novelty penelitian yaitu: perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung berdampak signifikan dan negatif terhadap tingkat kemiskinan melalui 2 indikator yaitu Jumlah Kunjungan Wisatawan dan Kontribusi PHR sebagai indikator terkait langsung dengan pemerintah. Indikator Lama Tinggal dan Pengeluaran Wisatawan tidak berdampak terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Badung. (pps.unud/IT)

Ervanita Restulita L. Sigia : ” EKSISTENSI BALIAN BAWO DAYAK LAWANGAN DI DUSUN TENGAH, BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH “

Senin, 4 Januari 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Ervanita Restulita L. Sigia, S.S., M.Si dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul EKSISTENSI BALIAN BAWO DAYAK LAWANGAN DI DUSUN TENGAH, BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

IMG_6660 Promovenda foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Globalisasi dengan segala implikasinya telah membawa pengaruh ke dalam kehidupan masyarakat Dayak Lawangan di Dusun Tengah, Barito Timur, Kalimantan Tengah. Salah satunya terlihat dari keberadaan balian bawo belakangan ini yang semakin langka tereduksi oleh modernisasi. Pada saat ini para penutur balian bawo tersebut semakin berkurang jumlahnya, mulai kehilangan generasi penerus. Realitas keberadaan balian bawo mengarah kepada kelangkaan padahal eksistensi balian bawo dalam berbagai segi bagi komunitas Dayak Lawangan masih berfungsi untuk kehidupan mereka. Di sisi lain terjadi pula kontradiktif di kalangan generasi muda Dayak Lawangan, kurang tertarik menjadi balian  bawo. Hal ini akan berpengaruh pada proses regenerasi balian bawo selanjutnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan  masalah meliputi: (1) bagaimana praktik balian  bawo dan relasinya dengan pranata kehidupan komunitas Dayak Lawangan di Dusun Tengah, Barito Timur, Kalimantan Tengah, (2) mengapa terjadi kelangkaan balian bawo di Dusun Tengah, Barito Timur, Kalimantan Tengah, (3) bagaimana implikasi kelangkaan balian bawo bagi komunitas Dayak Lawangan di Dusun Tengah, Barito Timur, Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis masalah tersebut menggunakan teori genealogi, kekuasaan dan pengetahuan, teori praktik sosial dan teori semiotika.

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, praktik bahan bawa secara genealogi diperoleh melalui mitologi dan proses menjadi balian bawo, yang melahirkan posisi sentral balian bawo dalam praktik ritual balian bawo. Dalam praktiknya, kekuasaan generatif balian bawo sangat penting dan dominan bagi komunitas Dayak Lawangan berperan dalam aspek penyembuh, pembersihan atau penyucian (memalas) terdiri atas fungsi menghilangkan bala (manifes) dan fungsi pencegahan bala (laten). Praktik Balian bawo merupakan pranata penyangga sosial budaya bagi kehidupan Dayak Lawangan terdiri atas fungsi religiusitas, pelestarian budaya, kehidupan sosial, dan estetika. Kedua, penyebab utama kelangkaan balian bawo, yaitu pendidikan formal dan keterputusan proses internalisasi dalam keluarga, rendahnya pendapatan sebagai balian bawo, besarnya tanggung jawab dan resiko sebagai balian bawo meliputi komitmen profesi, sangsi adat dan pantangan, tuntutan kemampuan spritual dan fisik sebagai balian bawo, persoalan ideologi dan psikologi dalam komunitas Dayak Lawangan. Ketiga, implikasi kelangkaan balian bawo meliputi komodifikasi praktik ritual, tetjadinya pergulatan ideologi terhadap praktik ritual balian bawo, melemahnya ikatan sosial dan solidaritas antaranggota komunitas,’ dan biaya proses ritual yang cukup tinggi. Dengan demikian, makna implikasi kelangkaan balian bawo telah menyentuh dimensi ideologis, dimensi struktur sosial, dan dimensi infrastuktur matrial. (pps.unud/IT)