I Ketut Paramarta: Evolusi Etimon-etimon Proto-Austronesia (PAN) Tentang Lingkungan Dalam Bahasa Bali

Senin, 30 Maret 2015. Program Pascasarjana Universitas Udayana mengadakan sidang terbuka promosi doktor atas nama Promovendus I Ketut Paramarta dari Program Studi Doktor Linguistik. Sidang terbuka ini dipimpin oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

Dalam disertasinya promovendus menyatakan, salah satu unsur kebahasaan yang dapat membuktikan adanya hubungan keasalan bahasa-bahasa kerabat adalah keterwarisan etimon (hasil rekonstruksi perangkat kata seasal). Etimon-etimon itu merupakan simbol verbal yang merepresentasikan lingkungan dan pola-pola budaya (ekosistem kebudayaan) purba yang sangat dekat dengan masyarakat Austronesia yang diperkirakan telah berlangsung sejak 6.000 tahun yang lalu (Bellwood, 2000:160). Setelah direnkonstruksi oleh Blust (1969) etimon-etimon tersebut menghasilkan seperangkat etimon-etimon PAN tentang lingkungan, yaitu etimon yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, dapat diamati secara langsung, dan mencerminkan lingkungan dan pola budaya (ekosistem kebudayaan) dasar penutur Proto-Austronesia, seperti *babuy ‘babi’, * asu ‘anjing’, *pajey ‘padi’, * waSir ‘air’, * batu ‘batu’, * niur ‘kelapa’, dan *betun ‘jenis bambu berdiameter besar’.

Penelitian tentang evolusi etimon-etimon Proto-Austronesia (PAN) tentang lingkungan dalam BB dilatarbelakangi oleh beberaa hal. Pertama, BB menurut para peneliti LHK (Esser (1974), Dyen (1965), Blust (1982), dan Mbete (1990)) merupakan bahasa yang berasal dari protobahasa Austronesia. Persoalannya adalah bagaimana unsur-unsur bahasa PAN, khususnya etimon-etimon PAN tentang lingkungan yang sanga dekat denga budaya purba penutur Proto-Austronesiaitu, diwariskan dan berevolusi (inovasi) fonologis dan leksikal hingga menjadi beragam kreasi leksikon dalam BB belum pernah diungkap secara mendalam sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut. Kedua, evolusi etimon-etimon PAN tentang lingkungan (kompleksitas perubahan bentuk, makna, dan fungsi sosiokultural) melalui kreasi kosakata bersinonim dan kreasi kompositum dalam bahasa BB merupakan hal yang sangat penting dikaji dalam rangka mengungkap keterwarisan dan perkembangan unsur-unsur protobahasa dalam lingkungan bahasa yang baru. Ketiga, penelitian lanjutan untuk menelusuri keterwarisan unsur-unsur bahasa asal khususnya etimon-etimon PAN pada setiap bahasa turunan (berskala kecil dengan wilayah sebar yang sangat terbatas) sangat mendesak dilakukan. Kelima, identitas dan keberagaman kekayaan alam dalam wujud keanekaragaman hayati  (biodiversity) yang ada di seluruh dunia sebagian besar terekam oleh bahasa-bahasa lokal pribumi (indigenous language). Oleh karena itu, penelitian terhadap BB khususnya mengenai unsur-unsur bahasa yang mengandung pengetahuan tentang identitas dan keberagaman lingkungan yang berakar pada warisan bahasa dan budaya purba penutur Proto-Austronesia menjadi penting untuk dilakukan. (pps.unud/budi)