Monthly Archives: April 2015

Tomycho Olviana: ” Rekayasa Pengembangan Kinerja Manajemen Agroindustri Sapi Potong Di Nusa Tenggara Timur”

Rabu, 29  April 2015. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang teruka Promosi Doktor atas nama Promovenda Tomycho Olviana, SP.,M.M.A., dari Program Doktor Ilmu Pertanian dengan disertasinya yang berjudul ” Rekayasa Pengembangan Kinerja Manajemen Agroindustri Sapi Potong Di Nusa Tenggara Timur “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.Tomyco

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa  Komoditas peternakan memiliki potensi untuk dikembangkan di lndonesia. Salah satu di antaranya adalah sapi potong. Populasi sapi hampir tersebar di seluruh Indonesia. Di beberapa daerah tertentu komoditas tersebut bahkan dijadikan sebagai komoditas unggulan dan hasilnya menjadi produk agroindustri. Perkembangan industri pengolahan sapi potong sangat ditentukan oleh ketersediaan ternak dan distribusinya (Foster dan Burt, 1992). Peranan penting agroindustri sapi potong ini dapat dilihat dari data BPS tahun 2012, yaitu sebagai penyedia lapangan kerja bagi sekitar 44,3 penduduk lndonesia dan sebagai penyedia bahan baku industri. Sebagai salah satu sentra sapi potong di wilayah Timur lndonesia, NTT diyakini cukup berhasil dalam mengembangkan peternakan sapi potong, tetapi industri pengolahannya perkembangannya belum optimal. Melalui agroindustri, peternak dimampukan dalam peningkatkan nilai tambah produk/jasa, pendapatan dan selanjutnya bermuara pada tercapainya tujuan pertumbuhan ekonomi regional serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan. Di sisi lain, lambatnya pengembangan agroindustri sapi potong saat ini yang disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang rendah, posisi tawar yang lemah, kurangnya modal usaha serta belum optimalnya pembinaan dari instansi terkait akan menghalangi tercapainya tujuan tersebut. Oleh karena itu, dalam pengembangan diperlukan suatu sistem pendekatan dilandasi oleh kemampuan dan ketrampilan dalam pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan produk/jasa yang berdaya saing terutama bagi peternak di pedesaan. Agroindustri memiliki peluang besar untuk terus berkembang karena kapasitasnya cukup besar, yang berarti pula belum terlalu ketatnya pasar bagi produk di sektor ini.

Strategi pengembangan manajemen kontemporer memberi pelajaran berharga tentang pentingnya investasi modal manusia untuk membangun kesejahteraan masa depan. Oleh karena itu, diperlukan strategi perencanaan manajemen yang tepat untuk menilai kinerja organisasi semacam ini. Penilaian kinerja yang tepat akan sangat bermanfaat sebagai masukan guna mencapai tujuan organisasi. Dalam tatanan pengembangan agribisnis sapi potong harus mempertimbangkan paling sedikit tiga aspek yaitu sosial-ekonomi dan lingkungan. Dalam konteks tersebut diperlukan suatu upaya sungguh-sungguh untuk mengidentifikasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sebagai bahan pertimbangan dalam rangka menetapkan alternatif strategi dan prioritas strategi pengembangan agroindustri sapi potong di Kupang. Memperhatikan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai.

  1. Merekayasa peta strategis atas dasar hubungan ketergantungan dan umpan-balik antar tujuan strategis
    dalam perspektif Balaneed Scorecard.
  2. Menetapkan prioritas pengembangan kawasan agroindustri sapi potong di Kupang NTT. (pps.unud/IT)

Luh Putu Puspawati: Teks Mitos Bulu Geles di Desa Tambakan Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng

Senin, 27 April 2015. Program Pascasarjana Universitas Udayana mengadakan sidang terbuka ujian promosi doktor atas nama Promovenda : Luh Putu Puswati dari Progam Doktor Linguistik.

Dalam disertasinya disebutkan bahwa, masyarakat desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng mempercayai adanya tradisi teks mitos bulu geles yaitu pembayaran kaul dengan  menggunakan seekor anak sapi (bulu geles) sebagai persembahan atas keberhasilan di Pura Dalem. Tradisi teks mitos bulu geles diyakini keberadaanya secara turun- temurun. Pada saat ini tidak saja masyarakat desa Tambakan yang berkaul dan menghaturkan bulu geles, namun juga  dilakukan oleh orang-orang dari luar desa Tambakan.

Tradisi teks mitos bulu geles ini diwariskan dari  generasi tua ke generasi yang lebih muda hingga kini. Teks  mitos bulu geles berisi persembahan bulu geles, i dewa.  Persembahan ini muncul pada saat bala tentara dari kerajaan  Buleleng dan masyarakat Padanguah kalah perang dari  kerajaan Bangli dan bersembunyi di tengah hutan di wilayah  Belong. Wilayah Belong adalah merupakan asal mula desa Tambakan.

Jenis penelitian ini bersifat kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan dengan teknik  observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Tradisi teks  mitos bulu geles perlu dikaji secara mendalam karena teks  mitos ini unik dan kajian difokuskan pada empat masalah, yakni: Pertama bagaimanakah struktur teks mitos bulu geles  di desa Tambakan? Kedua, apa fungsi teks mitos bulu geles  di desa Tambakan? Ketiga, makna apa yang terdapat dalam  teks mitos bulu geles tersebut, di desa Tambakan? keempat  bagaimanakah sistem pewarisan teks mitos ini di desa Tambakan?

Dalam mengkaji permasalahan, teori yang digunakan adalah teori fungsi, teori Semiotik, teori transmisi. Dari hasil analisis diperoleh bahwa teks mitos bulu gelas di desa Tambakan memiliki struktur naratif yaitu memiliki plot lurus, tokoh utama dan tokoh sekunder, mengandung tema
persembahan dengan latar tempat dan waktu. Rangkaian  upacara dalam teks mito bulu geles tersebut meliputi upacara  pelepasan bulu geles atau mapanauran, proses pemanggilan, penangkapan, dan diakhiri dengan penyembelihan pada saat  dilakukan upacara Mungkah Wali.

Fungsi teks mitos bulu geles di desa Tambakan adalah fungsi Tri Rita Karana, fungsi ritual, fungsi sosial,  dan fungsi pendidikan. Makna yang terkandung dalam teks  mitos bulu geles di desa Tambakan adalah makna religiusitas, kesejahteraan, pemersatu dan solidaritas, dan makna pelestarian. Sistem pewarisan teks mitos bulu geles di  desa Tambakan dilakukan secara lisan melalui penuturan dari generasi tua ke generasi yang lebih muda secara turun- temurun yang meliputi pelestarian lingkungan, nilai budaya,  dan pelestarian sosial.(pps.unud2015)

Seminar Nasional Teknik Sipil (SeNaTS) 1 – Aplikasi dan Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan dalam Bidang Teknik Sipil

Teknologi sebagai produk iptek diciptakanuntuk meningkatkankesejahteraan manusia. Namun dalam aplikasi dan atau pengembangan selanjutnya, ketersediaan sumber daya alam, kondisi lingkungan maupun dampak negatif dari penerapan suatu teknologi sering kurang diperhatikan.

Kondisi ini, sampai tingkat tertentu dapat mengurangi manfaat yang dituju atau bahkan membahayakan keberlanjutan eksistensi bumi dan kehidupannya. Kesadaran akan hal ini mendorong ilmuwan, rekayasawan maupun praktisi dalam berbagai bidang, termasuk bidang Teknik Sipil yang berhubungan erat dengan industri jasa konstruksi, untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan guna menjamin keberlanjutan bumi dan isinya.

Untuk mendukung perspektif tersebut, Program Magister Teknik Sipil Program Pascasarjana Universitas Udayana akan menyelenggarakan Seminar Nasional Teknik Sipil (SeNaTS) 1 pada hari Sabtu, 25 April 2015. Seminar yang bertema “Aplikasi dan Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Bidang Teknik Sipil”. Kegiatan ini bertujuan sebagai salah satu wadah komunikasi dan tukar informasi bagi ilmuwan, rekayasawan maupun praktisiyang memiliki perhatian dan atau pengalaman di bidang teknologi ramah lingkungan.(pps.unud/budi)

Untuk informasi lebih lengkap silahkan kontak :

1. I Nyoman Sutarja (HP : 08123953036)

2. Ida Bagus Rai Widiarsa (081236001899)

http://www.unud.ac.id/ind/event/index.php/2015/seminar-nasional-teknik-sipil-senats-1-aplikasi-dan-pengembangan-teknologi-ramah-lingkungan-dalam-bidang-teknik-sipil.html

Syahrun: ” Komodifikasi Ritual Tuturangiana Andala Pada Masyarakat Nelayan Pulau Makasar Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara”

Senin, 20 April 2015. Program Pascasarjana Universitas Udayana menyelenggrakan sidang terbuka ujian promosi doktor atas nama promovendus : Syahrun dari Program Studi Doktor Kajian Budaya.

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa ritual tuturangiana andala merupakan tradisi melarung sesaji di laut yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh  masyarakat nelayan Pulau Makassar, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada era kemajuan teknologi saat ini, ritual tuturangiana andala telah dipengaruhi oleh praktik komodifikasi sehingga proses ritual yang tadinya pelaksanaannya lebih sederhana dan sakral, sekarang menjadi lebih meriah karena pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengemas ritual ini sebagai ajang  promosi daerah. Pemerintah Kota Baubau melakukan perubahan tampilan ritual tuturangiana andala untuk kebutuhan yang bersifat komoditatif, segala sesuatu dijadikan barang yang bernilai jual untuk mendapatkan keuntungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Ada empat masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini,  yaitu (I) bagaimanakah proses komodifikasi ritual tuturangiana andala, (2) bagaimanakah masyarakat Pulau Makassar memaknai komodifikasi ritual tuturangiana andala, (3) bagaimanakah implikasi komodifikasi ritual tuturangiana andalaterhadap . sistem sosial kultural masyarakat, (4) bagaimanakah strategi pewarisan ritual naurangiana andala. Pengkajian terhadap masalah tersebut menggunakan teori semiotika, teori ritus dan teori wacana kekuasaan/pengetahuan. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara mendalam, observasi langsung di wilayah Pulau Makassar, dan dokumentasi.

Hasil penelitian dapat dipilah menjadi empat bagian. Pertama, lahirnya komodifikasi ritual tuturangiana andala didasari oleh keinginan pemerintah Kota Baubau untuk mempromosikan diri sebagai daerah tujuan wisata di kawasan Indonesia Timur. Di tengah pengaruh arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi saat ini ritual tuturangiana andala oleh pemerintah Kota Baubau dijadikan sebagai bahan komoditas untuk menarik wisatawan dengan menyelenggarakan event Festival Perairan Pulau Makassar. Kedua, komodifikasi ritual ttaurangiana andala memiliki makna, di antaranya: (1) makna filosofi, yaitu masyarakat meyakini ritual ini sebagai sarana pembebasan diri manusia atas segala bencana, (2)  makna ekonomi, secara ekonomi tradisi ritual tuturangiana andala dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan pendapatan daerah. (3) makna pelestarian budaya terhadap komodifikasi ritual, diketahui bahwa tradisi ritual tuturangiana andala yang dimiliki masyarakat Pulau Makassar agar dapat dihidupkan kembali, sebagai upaya pelestarian nilai budaya dari ancaman kepunahan, mengingat dalam tradisi ritual tuturangiana andala terdapat banyak nilai kehidupan yang positif dan harus dipertahankan. Ketiga, komodifikasi ritual tuturangiana andala berimplikasi kepada komponen sistem sosiokultural masyarakat nelayan Pulau Makassar yang meliputi superstruktur ideologis, struktur sosial, dan infrastruktur material, diantaranya di bidang ideologi umum, agama, Ilmu pengetahuan, kesenian, politik, stratifikasi sosial, keluarga dan kekerabatan, pendidikan, ekonomi, dan ekologi. Keempat, sebagai langkah strategi pewarisan dan penyelamatan terhadap budaya ritual tuturangiana andala pemerintah telah melakukan pendokumentasian dalam bentuk film dan foto-foto untuk dapat dipublikasikan kepada generasi berikutnya. (pps.unud/bd)

Wayan Bebas: “Laktosa-Astaxanthin Mempertahankan Kualitas Semen Ayam Hutan Hijau Selama Penyimpanan”

BebasKualitas semen yang baik adalah salah satu syarat dalam penerapan  teknologi inseminasi buatan dalam upaya konservasi ayam hutan hijau secara ex-situ. Penelitian ini bertujuan untuk mempertahankan kualitas semen ayam hutan hijau selama penyimpanan pada suhu 5°C selama 48 jam dengan penambahan kombinasi laktosa-astaxanthin pada pengenncer fosfat kuning telur sehingga ketersediaan semen tetap terjaga dalam upaya menunjang penerapan teknologi inseminasi buatan. Semen yang digunakan dalam  penelitian berasal dari delapan ekor pejantan sehat yang ditampung dengan teknik massage. Semen dengan kualitas baik diencerkan dengan fosfat kuning telur dengan penambahan laktosa 0,60%, astaxanthin 0,004% dan kombinasi laktosa 0,6% astaxanthin 0,004% kemudian semen disimpan pada suhu 5°C selama 48 jam.

Setelah 48 jam penyimpanan sebagian semen dari setiap perlakuan dievaluasi meliputi : motilitas progresif, abnonnalitas, kadar MDA, fragmentasi DNA, dan sebagian semen diinsmeinasikan pada ayam kampung betina yang sedang berproduksi. Produksi telur dua hari setelah inseminasi sampai hari ke sebelas diamati untuk mengetahui fertilitas dan daya tetasnya dengan cara mengeramkan pada mesin tetas. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian ( ANOVA), apabila hasilnya berbeda dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan penambahan laktosa 0,6%, astaxanthin 0,004%, dan gabungan laktosa 0,6% astaxanthin 0,004% terhadap motilitas progresif masing masing: 66,77± 2.16%, 68,11 ± 3.01%, dan 79,66 ± 150; terhadap abnormalitas masing masing: 22,55 ± 3,20%, 2,11 ± 3,91%, dan 12,33± 2,00%; terhadap kadar MDA masing masing  126,95 ± 6,98 nmol, 122,34 ± 6,11 nmol, 119,42 ± 4, 76 nmol; terhadap fragmentasi DNA masing masing : 12,33 ± 1,93, 13,55 ± 1,81%, 7,55 ± 1,66%; terhadap fertilitas telur masing-masing: 59.76 ± 3.29%, 63.58 ± 5.51%, dan 73.43 + 4.67%;  terhadap daya tetas telur masing masing: 55,59 ± 4,92%, 56,87 ± 6,69%, dan 66,60 ± 6,16%.

Penambahan kombinasi laktosa 0,6%-astaxanthin 0,004% menghasilkan motilitas progresif, fertilitas, dan daya tetas yang nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan hanya penambahan laktosa 0,6% dan astaxanthin 0,004%, dan menghasilkan abnormalitas, MDA, dan fragmentasi DNA yang nyata lebih rendah (P<0,05) jika dibandingkan hanya penambahan laktosa 0,6% dan astaxanthin 0,004%. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi laktosa 0,6%-astaxanthin 0,004% mampu meningkatkan motilitas progresif, fertilitas, dan daya tetas serta menurunkan abnormalitas MDA, dan fragmentasi DNA.(pps.unud/bd)

I NYOMAN SUKARTHA: “KELISANAN DALAM TRADISI MABEBASAN DI BALI”

Bali sangat kaya akan kearifan lokal (local wisdom). Salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Bali adalah mabebasan. Dahulu aktivitas mabebasan memiliki pengertian menyanyikan, dan menerjemahkan kakawin secara lisan ke dalam bahasa Bali, namun, seiring dengan perkembangan zaman, pengertiana mabebasan memiliki jangkauan yang lebih luas. Mabebasan tidak saja berarti menyanyikan dan menerjemahkan kakawin secara lisan, akan tetapi mabebasan berarti menyanyikan cipta sastra tradisional seperti kakawin, sloka, prosa kawi (parwa), kidung dan geguritan. Aktivitas menyanyikan itu diikuti dengan penerjemahan ke dalam bahasa Bali. Ada tidaknya komentar dalam aktivitas mabebasan itu, tidaklah begitu penting (Sukartha, 1982: 79, Jendra, 1996: 1)

Kehidupan mabebasan di Bali dahulu memang memprihatinkan. Namun setelah terbentuknya Widyasabha, pada hari raya Siwaratri Januari tahun 1980, mabebasan mulai lebih digemari. Keadaan ini tidak bisa dilepaskan dari usaha pemerintah propinsi Bali dan para pemerhati mabebasan kala itu. Terbitnya buku- buku kakawin, kidung dan buku-buku geguritan, ditambah lagi kemajuan tekhnologi informatika (HTI), serta meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyartakat.

Bali ikut menunjang kebangkitan salah satu kearifan lokal tradisi lisan Bali, yang bernama mabebasan. Data terakhir menunjukkan bahwa kelompok mabebasan yang disebut dengan pesantian berjumlah 3141 pesantian(Sudirga, 2-13:132). Banyaknya penelitian tentang mabebasan belum ada yang meneliti kelisanannya. Pada hal kelisanan yang  ada di dalam mabebasan sangat penting untuk diketahui.  Hal itulah yang memicu penelitian ini dilakukan.

Berkaitan dengan topik penelitian di atas, dikemukakanlah masalah seperti berikut: (1) Faktor apa yang memotivasi orang belajar mabebasan? (2) Jenis wacana apa yang ada dalam mabebasan? (3) Apa fungsi dan makna mabebasan? (4) Bagaimana mekanisme pewarisan mabebasan sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat Bali.

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara jelas, lengkap dan sistematis mengenai: (1) motivasi pelisanan dalam mabebasan; (2) fungsi mabebasan sebagai tradisi lisan; (3) jenis wacana yang dilisankan dan; (4) mekanisme pewarisan tradisi lisan mabebasan di Bali.

Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan humaniora. Lebih khusus manfatnya adalah; (1) dapat memperkaya khazanah hasil penelitian tentang kearifan lokal masyarakat Bali, terutama mengenai tradisi lisan mabebasan; (2) bermanfaat bagi pengembangan teori sehingga menghasilkan temuan baru; (3) bermanfaat bagi kajian linguistik dan sastra, khususnya pada penerapan teori wacana dan teori mabebabasan; (4) bermanfaat bagi pengembangan dan pelestarian salah satu khazanah budaya bangsa yang adiluhung.(pps.unud/budi)

DEWA PUTU RAMENDRA: “PENGGUNAAN BAHASA BALI PADA GUYUB TUTUR BAHASA BALI KOTA SINGARAJA”

Tingkat tutur bahasa Bali menyediakan sejumlah ragam pilihan kode bagi penutur bahasa Bali untuk digunakan berdasarkan status dan kedekatan antara penutur-mitra tutur. Ragam itu secara umum dibedakan atas kode alus, kode biasa, dan kode kasar. Menurut norma bahasa yang berlaku, kode alus digunakan untuk bercakap-cakap dengan atau di antara peserta tutur triwangsa; kode biasa digunakan untuk bercakap-cakap dengan atau di antara peserta tutur jaba; sedangkan, kode kasar digunakan untuk bercakap-cakap dengan atau di antara peserta tutur yang sangat akrab, merujuk hewan, atau untuk mengungkapkan rasa kesal.

Sejalan dengan perkembangan zaman, dari zaman tradisional ke zaman modern, penentuan kelas sosial masyarakat Bali yang mulanya hanya berdasarkan wangsa, yakni triwangsa dan jaba, mengalami dinamika. Keanggotaan kelas sosial tidak lagi hanya bergantung pada wangsa, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti pendidikan, pekerjaan, kekayaan, dan sebagainya. Berdasarkan dinamika Itu, penutur jaba, selain triwangsa, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian kelas atas.

Dinamika sosial masyarakat tersebut menarik untuk dikaji sehubungan dengan penggunaan tingkat tutur bahasa Bali, apalagi Suastra (1998) dan Seken (2004) telah mengungkapkan bahwa penelitian-penelitian tentang penggunaan bahasa Bali masih sangat perlu untuk dilakukan.  Hal itu mendorong dilakukannya pengkajian penggunaan  tingkat tutur bahasa Bali pada guyub tutur Kota Singaraja.

Guyub tutur Kota Singaraja dipilih sebagai tempat penelitian karena beberapa keunikan sebagai berikut. Pertama, guyub tutur Kota Singaraja memiliki stereotip negatif sebagai guyub tutur yang penggunaan bahasanya kasar (Laksana, 2009: 111; dan Wingarta, 2009: 12). Kedua, Kota Singaraja sempat menjadi kota pelabuhan yang ramai dan juga pusat pemerintahan sehingga penggunaan bahasa Bali di kota itu banyak mendapat pengaruh luar (Sukrata dalam Ginarsa dkk., 1975: 28). Ketiga, berbeda dengan wilayah Bali yang lainnya, Kota Singaraja bemuansa lebih egaliter (Wingarta, 2009 :80).

Ketiga alasan itu, yang ditambah oleh fakta bahwa bahasa Bali yang digunakan di Kota Singaraja, selain di Kota Klungkung, diacu sebagai model bagi bahasa Bali ragam standar, menjadikan penggunaan bahasa Bali pada guyub tutur bahasa Bali Kota Singaraja semakin menarik untuk dikaji.(pps.unud/budi)

I Ketut Paramarta: Evolusi Etimon-etimon Proto-Austronesia (PAN) Tentang Lingkungan Dalam Bahasa Bali

Senin, 30 Maret 2015. Program Pascasarjana Universitas Udayana mengadakan sidang terbuka promosi doktor atas nama Promovendus I Ketut Paramarta dari Program Studi Doktor Linguistik. Sidang terbuka ini dipimpin oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

Dalam disertasinya promovendus menyatakan, salah satu unsur kebahasaan yang dapat membuktikan adanya hubungan keasalan bahasa-bahasa kerabat adalah keterwarisan etimon (hasil rekonstruksi perangkat kata seasal). Etimon-etimon itu merupakan simbol verbal yang merepresentasikan lingkungan dan pola-pola budaya (ekosistem kebudayaan) purba yang sangat dekat dengan masyarakat Austronesia yang diperkirakan telah berlangsung sejak 6.000 tahun yang lalu (Bellwood, 2000:160). Setelah direnkonstruksi oleh Blust (1969) etimon-etimon tersebut menghasilkan seperangkat etimon-etimon PAN tentang lingkungan, yaitu etimon yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, dapat diamati secara langsung, dan mencerminkan lingkungan dan pola budaya (ekosistem kebudayaan) dasar penutur Proto-Austronesia, seperti *babuy ‘babi’, * asu ‘anjing’, *pajey ‘padi’, * waSir ‘air’, * batu ‘batu’, * niur ‘kelapa’, dan *betun ‘jenis bambu berdiameter besar’.

Penelitian tentang evolusi etimon-etimon Proto-Austronesia (PAN) tentang lingkungan dalam BB dilatarbelakangi oleh beberaa hal. Pertama, BB menurut para peneliti LHK (Esser (1974), Dyen (1965), Blust (1982), dan Mbete (1990)) merupakan bahasa yang berasal dari protobahasa Austronesia. Persoalannya adalah bagaimana unsur-unsur bahasa PAN, khususnya etimon-etimon PAN tentang lingkungan yang sanga dekat denga budaya purba penutur Proto-Austronesiaitu, diwariskan dan berevolusi (inovasi) fonologis dan leksikal hingga menjadi beragam kreasi leksikon dalam BB belum pernah diungkap secara mendalam sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut. Kedua, evolusi etimon-etimon PAN tentang lingkungan (kompleksitas perubahan bentuk, makna, dan fungsi sosiokultural) melalui kreasi kosakata bersinonim dan kreasi kompositum dalam bahasa BB merupakan hal yang sangat penting dikaji dalam rangka mengungkap keterwarisan dan perkembangan unsur-unsur protobahasa dalam lingkungan bahasa yang baru. Ketiga, penelitian lanjutan untuk menelusuri keterwarisan unsur-unsur bahasa asal khususnya etimon-etimon PAN pada setiap bahasa turunan (berskala kecil dengan wilayah sebar yang sangat terbatas) sangat mendesak dilakukan. Kelima, identitas dan keberagaman kekayaan alam dalam wujud keanekaragaman hayati  (biodiversity) yang ada di seluruh dunia sebagian besar terekam oleh bahasa-bahasa lokal pribumi (indigenous language). Oleh karena itu, penelitian terhadap BB khususnya mengenai unsur-unsur bahasa yang mengandung pengetahuan tentang identitas dan keberagaman lingkungan yang berakar pada warisan bahasa dan budaya purba penutur Proto-Austronesia menjadi penting untuk dilakukan. (pps.unud/budi)