Tim Task Force ISO Program Pascasarjana Unud

Magister Kajian Pariwisata

Akreditasi Magister Ilmu Hukum

The Summer Class

Seminar Research Prodia

Temu Stakeholder Magister Ilmu Hukum

Temu Stakeholder Magister Ilmu Hukum

PS. Ilmu Lingkungan di Payangan

Kunjungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau di Unud

Penampilan Reproduksi, Proliferasi dan Aktivitas Sel Sekretori Kelenjar Mammae Tikus Putih Yang Diberi Daun Lamtoro (Leucaena Leucocephala (Lam.) De Wit) Hasil Perendaman

Pascasarjana, 28 Januari 2015 telah dilakasanakan sidang terbuka Promosi Doktor dari Program Doktor Ilmu Peternakan atas nama Promovenda : Dra. Ngurah Intan Wiratmini, M.Si., dalam disertasinya yang berjudul “Penampilan Produksi, Reproduksi, Proliferasi dan Aktivitas Sel Sekretori Kelenjar Mammae Tikus Putih Yang Diberi Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala(Lam.) de Wit) Hasil Perendaman.

Menurut Promovenda, Lamtoro (Leucaena leucocephala(Lam.) de Wit) merupakan salah satu sumber pakan hijauan yang dapat diberikan pada ternak ruminansia dan non ruminansia. Kandungan protein daun lamtoro cukup tinggi yaitu berkisar antara 25-35%.  Namun penggunaan daun lamtoro menjadi terbatas karena mengandung zat antinutrisi seperti mimosin, tanin, dan asam fitat. Kandungan mimosin pada daun lamtoro dapat diturunkan melalui beberapa metode salah satunya adalah melalui perendaman dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman terhadap penampilan reproduksi, proliferasi dan aktivitas sel sekretori kelenjar mammae tikus putih. Rancangan  acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan digunakan dalam penelitian ini.

Perlakuan berupa pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman (TDLP) yang dicampur dengan pakan komersial berbentuk pelet. Perlakuan pertama (P1) adalah ransum pelet dengan 92,5% pakan komersial + 7,5% TDLP; Perlakuan kedua (P2) ransum dengan 85% pakan komersial + 15% TDLP; dan perlakuan ketiga (P3) ransum dengan 77,5% pakan komersial + 22,5 % TDLP. Sebagai kontrol (P0) digunakan 100% pakan komersial tanpa tambahan TDLP. Peubah yang diukur adalah pemanfaatan nutrien, perkembangan embrio, pertumbahan dan perkembangan anak post natal, bobot kering bebas lemak (BKBL), total DNA dan total RNA kelenjar mammae dan sekresi air susu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan TDLP dalam ransum menurunkan secara nyata (P<0,05) terhadap konsumsi dan kecernaa ransum selama tikus bunting dan laktasi. Namun, penambahan TDLP pada ransum tidak berpengaruh nyata P>0,05 terhadap konversi ransumg, rtensi protein, kadar glukosa dara, kadar protein darah dan pertambahan badan harian induk. Rata-rata jumlah implantasi, bobot fetus, panjang fetus, jumlah fetus hidup, litter size saat lahir, litter size sapih saat disapih, total DNA dan total RNA kelenjar mammae juga menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P<0,005) dengan kontrol. Namun terjadi terjadi penurunan secara nyata (P,0,05) terhadap sekresi air susu, pertambahan bobot badan harian anak dan bobot sapih pada induk tikus yang diberi perlakuan P3.

Dari penelitan ini Promovenda menyimpulkan bahwa bahwa penambahan TDLP pada ransum sampai aras 22,5% tidak menghambat perkembangan embrio, menurunkan konsumsi dan kecernaan nutrien, tidak menghambat proliferasi dan aktivitas sel sekretori kelenjar mammae, namun penambahan TDLP pada aras 22,5% menyebabkan penurunan sekresi air susu, pertambahan bobot badan harian anak dan bobot sapih anak.

Berdasarkan hasil sidang terbuka dan dengan pertimbangan ketentuan yang berlaku, disertasi tersebut diterima dan Promovenda dinyatakan lulus serta berhak memakai gelar Doktor.(pps.unud/budi)

Evaluasi Seleksi Makan dan Nilai Nutrisi Hijauan Pakan Rusa Timor (Cervus timorensis Blainville) Di Taman Nasional Bali Barat

Pascasarjana, 26 Januari 2015. Disertasi ” Evaluasi Seleksi Makan dan Nilai Nutrisi Hijauan Pakan Rusa Timor (Cervus timorensis Balinville) Di Taman Nasional Bali Barat” yang disajikan oleh Promovendus : I Ketut Ginantra, S.Pd.,M.Si dalam acara sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Peternakan Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Menurut Ginantra, penelitian ini bertujuan untuk menentukan seleksi hijauan pakan rusa tomr di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan sekaligus menentukan komposisi botaninya sebagai formula ransum; menentukan nilai nutrisi hijauan pakan yang dikonsumsi rusa timor; dan dengan nutrien ransum yang terkonsumsi diharapkan mampu memenuhi (sesuai dengan) kebutuhan rusa akan nutrien berdasarkan  status fisiologisnya.

Penelitian dilakukan dalam dua tahap; tahap pertama adalah penelitian lapangan pada empat grazing rusa timor di TNBB pada musim hujan dan kemarau (2013), untuk mengetahui komposisi tumbuhan pakan di habitatnya; komposisi tumbuhan yang dimakan oleh rusa timor; seleksi tumbuhan pakan; komposisi kimia; sifat fisik dan sifat biologis tumbuhan pakan. Tahap kedua; penelitian in vivo menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) di penagkaran rusa Bangsing Pupuan Tabanan pada bulan Januari-April 2014, untuk menentukan pengaruh komposisi ransum terhadap tingkat konsumsi, kecernaan, performans rusa timor dan evaluasi konsumsi nutrien ransum terkait kebutuhan rusa akan nutrien. Komposisi tumbuhan di habitat ditentukan dengan metode kuadrat, komposisi jenis tumbuhan yang dimakan ditentukan dengan teknik mikrohistologi sampel feses. Seleksi tumbuhan pakan dihitung menggunakan indek ivlev. Komposisi kimia tumbuhan pakan ditentukan dengan analisis proximat. Tingkat konsumsi  adalah konsumsi DM, konsumsi energi, konsumsi OM dan konsumsi mineral. Kecernaan pakan (DM, CP, OM, dan Energi) dengan koleksi total. Performans rusa timor yang diukur adalah metabolit rumen, kandungan nutrien darah, dan pertambahan bobot badan. Hubungan seleksi tumbuhan pakan dan sifat kimia, biologi, dan sidat fisik pakan ditentukan dengan regresi ganda(IBM SPSS 20). Evaluasi konsumsi nutrien ransummengacu pada standar pemenuhan kebutuhan nutrien (protein energi termetabolisme, mineral Ca dan P) untuk rusa timor.

Dari penelitian tersebut diperoleh temuan baru yaitu; (1) Kandungan CP dan tanin (sifat kimia), daya serap air, dan daya larut air (sifat fisik) jenir tumbuhan pakan merupakan empat variabel prediktor untuk memprediksi seleksi tumbuhan pakan di habitat. (2) Berdasarkan produksi nutrien (DM, CP, GE, Ca dan P) tumbuhan pakan di habitat TNBB dab konsumsi nutrien rua timor, maka daya dukung habitat di TNBB adalah 2,15 individu/ha (Ginantra, 2015).

Setelah mengikuti proses sidang dan penyanggahan dengan seksama serta mempertimbangkan prestasi akademiknya, sidang menyatakan Promovendus “I Ketut Ginantra, S.Pd.,M.Si, telah dengan baik mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus. Promovendus berhak memakai gelar Doktor dengan disertasi berjudul: “Evaluasi Seleksi Makan dan Nilai Nutrisi Hijauan Pakan Rusa Timor (Cervus timorensis Balinville) Di Taman Nasional Bali Barat”.(pps.unud/budi)

Kemristekdikti dan Apindo Sepakat Bersinergi

Jakarta, 21 Januari 2015 – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi B. Sukamdani menandatangani nota kesepahaman tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Perguruan Tinggi. Penandatanganan nota kesepahaman ini disaksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kepala BKPM Franky Sibarani, Ketua Forum Rektor Indonesia Ravik Karsidi dan undangan lain baik dari kalangan pengusaha yang tergabung dalam Apindo maupun rektor perguruan tinggi yang tergabung dalam Forum Rektor Indonesia di Istana Wakil Presiden pada rabu (21/1).

Pada kesempatan tersebut juga ditandatangani perjanjian kerja sama antara Forum Rektor Indonesia dengan Apindo sebagai implementasi dari nota kesepahaman tersebut yang akan segera ditindaklanjuti dengan kerja sama teknis antara Apindo provinsi dengan perguruan tinggi di wilayahnya. Ruang lingkup kerja sama antara Kemeristekdikti dengan Apindo antara lain pemagangan kerja bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk bidang-bidang keilmuan yang relevan, penelitian dan pemanfaatan hasil penelitian, pelatihan dan jasa konsultasi, pengabdian pada masyarakat, dan pertukaran informasi tentang ketersediaan dan kebutuhan Sumber Daya Manusia pada dunia usaha.

Penandatangan nota kesepahaman ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kerja sama antara perguruan tinggi dengan sektor usaha dan industri melalui pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengabdian pada masyarakat di lingkungan perguruan tinggi dan dunia usaha. Dalam sambutannya, Menristekdikti berharap bahwa perguruan tinggi melalui tridarma pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan produk-produk intelektual berupa Hak Kekayaan Intelektual, publikasi serta inovasi yang siap dimanfaatkan oleh masyarakat dan sektor industri. Melalui produk inovasi, perguruan tinggi berperan strategis dalam mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa. Oleh sebab itu sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah mutlak harus dilakukan. Ketiga pihak tersebut harus bekerja sama. Perguruan tinggi sebagai lembaga riset bertindak sebagai penghasil ilmu dan pengetahuan baru yang mendorong tumbuhnya modus-modus ekonomi. Sektor usaha bekerja pada bidang produksi. Sedangkan pemerintah bekerja sebagai mediator dan fasilitator.

Dalam arahannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menginginkan perguruan tinggi dapat ‘berjodoh’ dengan kalangan usaha untuk berkembang bersama. “Pendidikan dasarnya dari mana? Dasarnya dari peningkatan ekonomi juga. Tidak mungkin kita bisa membiayai pendidikan kita kalau ekonomi kita tidak tumbuh. Jadi itu suatu perputaran, hubungannya antara produktivitas, ekonomi, teknologi kita berputar. Itu lah perputarannya yang harus kita padukan,” ujar Jusuf Kalla. Menurut Jusuf Kalla, faktor produksi terdiri dari tiga hal, resources, sistem kerja dan skill dan kesemuanya harus saling menundukung satu sama lain. Sebuah perusahaan akan berkembang dengan pesat jika ditopang dengan teknologi. Dari semua hal itu yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan kemajuan bangsa dengan mengembangkan kemampuan teknologi dan skill masyarakat. Menurut Jusuf Kalla, kerja sama antara perguruan tinggi dengan kalangan usaha sangat penting dalam meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi, termasuk membangun kesiapan lulusan perguruan tinggi untuk terjun di dunia usaha. (sumber:http://dikti.go.id)

Wacana Tradisi Lisan Vera Etnik Rongga, Di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur

Hari ini, Jumat 23 Januari 2015 Program Pascasarjana telah melaksanakan sidang terbuka Promosi Doktor dari Program Doktor Linguistik atas nama Promovenda : Dra. Ni Wayan Sumitri, M.Si. Wanita kelahiran Samu, Gianyar, 12 Mei 1966 yang merupakan salah satu dosen pengajar di IKIP PGRI Bali ini mengangkat topik disertasi tentang tradisi vera yang dipraktekkan etnik Rongga .

Menurut Sumitri, etnik Rongga adalah salah satu etnik minoritas di Indonesia yang berdiam di wilayah Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timut (NTT). Etnik Rongga terdiri atas 22 suku (clan) yang memiliki kebudayaan sendiri engan corak khas, sebagaimana tercermin dalam berbagai tradisi. Salah satu tradisi yang mencoraki kebudayaan etnik Rongga adalah vera, yakni pertunjukan tarian tradisional yang disertai dengan nyanyian dalam bahasa Rongga. Vera merupakan bagian kehidupan manusia, tetapi juga berfungsi sebagai perekat rasa kebersamaan dalam ikatan komunitas etnik Rongga. Berdasarkan konteksnya, vera terdiri atas beberapa jenis, termasuk vera haimelo mbuku sa’o mbasa wini  (ritual berkaitan dengan pertanian) yang menjadi fokus penelitannya.

Kepesatan pengaruh arus balik budaya global sebagai dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, disamping masuknya agama Katolik dan pendidikan modern menyebabkan etnik Rongga mengalami dinamika. Pengaruh tersebut menyebabkan kebudayaan etnik Rongga terus mengalami perubahan dalam tataran tertentu. Perubahan itu menyebabkan daya hidup wacana tradisi lisan vera terancam kelestarian dan terus mengalami penyusutan fungsi dan pergeseran makna karena tidak dipahami lagi oleh sebagian besar warga etnik Rongga terutama generasi mudanya. Fenomena itu merupakan salah satu alasan yang melatarbelakangi perlu dilakukannya penelitian tentang tradisi lisan vera etnik Rongga di Kabupaten Manggarai Timur.

Setelah mengikuti proses penyanggahan dan dengan mempertimbangkan masa studi serta telah mengikuti Ujian Tertutup, sidang menyatakan bahwa, Promovenda atas nama Dra. Ni Wayan Sumitri, M.Si., dinyatakan lulus Pendidikan Doktor dan berhak memakai gelar Doktor dengan disertasi berjudul: “Wacana Tradisi Lisan Vera Etnik Rongga, Di Manggarai Timur Nusa Tenggara Timur”. (pps.unud/budi)

Perlawanan Orang Katobengke Terhadap Hegemoni Elite Tradisional di Kota Baubau Sulawesi Tenggara

Orang Katobengke merupakan salah satu subetnik Buton yang berada di wilayah Kota Baubau Sulawesi Tenggara. Menurut tradisi lisan yang berkembang di kalangan elite tradisional, mereka adalah migran dari kampung Laboora pulau Muna yang dibawa oleh Sultan Buton pertama, Murhum pada akhir abad ke-17. Wilayah kekuasaan Kesultanan Buton masa itu dapat dibagi atas “pusat pemerintahan kesultanan” dan “daerah kekuasaan kesultanan”. Pusat pemerintahan adalah Wolio atau lazim disebut Keraton Wolio. Wilayah ini merupakan tempat tinggal golongan penguasa kesultanan, sedangkan daerah kekuasaan menempati 70 wilayah kampung yang disebut kadie (Maulana,dkk.,2011:69-70).

Rudyansyah (1997: 44-53) dalam bukunya berjudul Kekuasaan, Sejarah dan Tindakan menyatakan bahwa klasifikasi kelas penguasa dan kelas yang dikuasai dalam Kesultanan Buton, menjadikan struktur masyarakt Buton dalam tiga lapisan masyarakat, yakni (1) kaomu (bangsawan), (2) walaka (menengah), (3) papara (rakyat desa). Beberapa papara(rakyat) adalah pribumi dan sebagian orang adalah budak yang didatangkan dari luar untuk menambah jumlah penduduk desa. Menurut Susanto Zuhdi (2010:76) lapisan papara adalah orang jauh yang tidak diketahui asal usulnya. Lapisan paling bawah adalah budak atau batua yang berasal dari papara  karena tidak membayar pajak. Ligtvoet (1878) dalam bukunya yang berjudul Beschrijving en Geshiedenis van Boeton yang dikutip oleh Schoorl (2003:3) menyatakan bahwa perdagangan budak sangat penting bagi Buton di abad ke-17 dan ke-18. Sementara perbudakan di zaman Kesultanan sekitar abad ke-15 dan dihapuskan ketika pemerintahan Sultan Laelangi /Sultan Buton ke-4 (1593-1631).

Orang Katobengke dalam struktur Kesultanan Buton tergolong kelas papara (rakyat). Sejak orde baru kalangan elite tradisional mengidentifikasikan mereka sebagai budak dengan ciri khas pakaian yang di tampal-tampal (kabhaleko) bodoh dan kotor. Tugas wanitanya sebagai pengasuh bayi bangsawan tetapi sering juga dijadikan sebagai the second sex yang keberadaanya tidak diperhitungkan. Bentuk kekerasan simbolik yang paling menonjol adalah penerapan tabu dat elite, seperti orang Katobengke tidak boleh kawin dengan kaomu dan walak dan tidak boleh melaksanakan ibadah haji. Kebijakan elite dalam pendidikan yang terkesan membatasi ruang mereka untuk tidak bebas memilih sekolah lanjutan. Beberapa anak Katobengke yang memiliki keiinginan tinggi untuk bersekolah terpaksa mereka harus menyembunyikan identitas mereka sebagai orang Katobengke. Diskriminasi dalam bentuk stereotipe negatif yang ditulis Tasfirin (2010:1) seperti kata-kata: Pakemu yitu pasae miana Katobengke artinya prilakumu itu seperti orang Katobengke. Sebaliknya, citra positif yang diberikan elite tradisional pada orang Katobengke berkaitan dengan kemampuan merawat dan menyembuhkan penyakit anak bangsawan, sehingga mereka lazim dipanggil atau disebut Naa Laode dan Maa Laode (Ruslan, 2005:71). Menurut Bourdieu (dalam Jenkins, 2010:157) adalah pemaksaan sistem simbolisme dan makna terhadap kelompok subordinat sehingga hal itu sebagai sesuatu yang sah.

Tampaknya pada era orde baru birokrasi pemerintahan di Kota Baubau mewarisi birokrasi kolonial Belanda khusunya stigmatisasi terhadap orang Kotabengke. Sebagaimana Dafidson (2010:13) menyatakan bahwa orde baru melakukan pendekatan tangan besi terhadap rakyat. Kekerasan fisik rezim ABRI di Kota Baubau pada tahun 1969 berkaitan dengan penumpasan G30 S PKI. Orang Kotabengke menjadi sasaran keganasan tersebut dan mereka di tuduk terlibat G30 S PKI tanpa alasan yang jelas. Akibatnya hampir seluruh tokoh dan pemuda Kotabengke ditangkap dan dimasukkan ke penjara, tetapi sebagian diantaranya terpaksa melarikan diri keluar daerah Buton. Sejak reformasi berjalan, orang Katobengke mulai melakukan perlawanan terhadap sistem pengetahuan elite tradisional maupun kekerasan fisik.

Penelitian ini dilakukan oleh Promovendus Drs. La Ode Dirman, M.Si., sebagai syarat mendapatkan gelar Doktor di Program Doktor Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Udayana. Disertasi tersebut diuji dalam sidang terbuka Promosi Doktor yang dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Januari 2015. Menurut La Ode, penelitian ini bertujuan untuk memahami praktik perlawanan orang Kotabengke terhadap hegemoni elite berdasarkan pengalaman sejarah serta implikasinya baik dari kelompok sendir maupun terhadap elite tradisional. Disamping itu, penelitian ini diharapkan dapat menemukan model, konsep, dan metode baru dalam rangka pengembangan studi kajian budaya serta sebagai masukan terhadap pemerintah dalam memberdayakan masyarakat termarginalkan, memanfaatkan potensi kearifan lokal, dan pelestarian identitas budaya orang Kotabengke. (pps.unud/budi)

Keterpinggiran Drama Gong Wijayakusuma Abianbase, Gianyar, Dalam Seni Pertunjukan Bali di Era Global

Pada hari Jumat, 16 Januari 2015 telah dilaksanakan sidang terbuka dalam acara Promosi Doktor dari Program Studi Doktor Kajian Budaya dengan Promovendus : Drs. A.A. Gde Putera Semadi, M.Si., yang dihadiri oleh para penyanggah, undangan akademik, dan undangan lainnya.

Menurut Promovendus, drama gong merupakan teater tradisional Bali yang dipentaskan dengan akting, berdialog verbal (berbahasa daerah Bali), dan diiringi gamelan gong kebyar. Drama gong diperkirakan muncul di Gianyar tahun 1960-an, dan mengalami masa kejayaannya sekitar tahun 1970 sampai akhir tahun 1980-an. Namun sejak tahun 1990-an kesenian tersebut tampak mulai meredup dan terpinggirkan. Hal itu dapat dilihat dari jarangnya pertunjukan itu pentas, kurangnya minat masyarakat sebagai pelaku, maupun kurangnya minat masyarakat untuk menonton pertunjukan tersebut. Sebagai kesenian rakyat yang diciptakan oleh dan untuk rakyat, tentu saja hal ini membuat para pemerhati seni pertunjukan Bali risau. Oleh sebab itu, merekapun telah melakukan berbagai upaya antara lain: meng-Indonesia-kan drama gong, mengubah penyajiannya kedalam bentuk sinema elektronik, memperpendek waktu penyajiannya, melakukan pembinaan di setiap menjelang penyelengaraan Pesta Kesenian Bali (PKB), mengangkatnya sebagai topik seminar, melombakan, dan lain sebagainya untuk meyelamatkan dram gong dari keterpinggirannya. Kenyataannya, hingga kini upaya tersebut tampaknya belum mampu membuat kehidupan drama gong tersebut bergairah kembali.

Pada masa kejayaannya, di Bali berkembang beberapa sekaa drama gong antara lain: Drama Gong Wijayakusuma Abianbase, Gianyar, Drama Gong Kacang Dawa, Klungkung, Drama Gong Cakra Bhuwana, Sukawati, Drama Gong Puspa Anom Banyuning, Buleleng, Drama Gong Bintang BAli Timur, Denpasar, Drama Gong Dewan Kesenian Denpasar (DKD), Drama Gong Duta Bon Bali, Gianyar, dan Drama Gong Kerti Bhuwana, Gianyar. Dari semua sekaa tersebut, sekaa Drama Gong Wijayakusuma yang paling terkenal dan disenangi penonton. Hal itu dapat dilihat dari kepopulerannya, frekuensi pentas, jumlah dan antusiasme penonton menyaksikan pertunjukan tersebut.

Dikatakannya, penelitian ini menggunakan metode kaulitatif, dan kajian dengan teori hegemoni, dekonstruksi, serta semiotika yang digunakan untuk mengkaji bagaimana bentuk, faktor-faktor penyebab, serta makna keterpinggiran Drama Gong Wijayakusuma dalam seni pertunjukan Bali. Data dikumpulkan dengan teknik observasi partisipasi, wawancara mendalam, termasuk melaksanakan FGD. Dari penelitian ini ditunjukan bahwa Drama Gong Wijayakusuma saat ini memang benar sedang terpinggirkan dalam seni pertunjukan Bali. Itu disebabkan karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah Drama Gong Wijayakusuma tidak dikelola dengan manajemen profesional terkait tata kelola produksi, distribusi dan bentuk penyajiannya agar lebih fleksibel dalam konteks, ruang, dan waktu. Sedangkan faktor eksternalnya adalah di era global ini masyarakat lebih mudah memperoleh berbagai bentuk seni pertunjukan menarik, yang dapat ditonton secara langsung maupun media elektronik. Keterpinggiran Drama Gong Wijayakusuma dalam seni pertunjukan Bali bermakna hilangnya salah satu lapangan pekerjaan bagi para pihak terkait, hilangnya salah satu media pendidikan non formal tentang budi pekerti dan seni budaya Bali, serta bermakna ancaman bagi musnahnya salah satu bentuk teater tradisional Bali, unsur kebudayaan Indonesia.

Berdasarkan pertimbangan prestasi akademik selama studi, hasil Ujian Tertutup, serta setelah mengikuti proses penyanggahan terhadap disertasi tersebut, maka sidang berpendapat bahwa Promovendus Drs. A.A. Gde Putera Semadi, M.Si., dengan disertasi berjudul “Keterpinggiran Drama Gong Wijayakusuma Abianbase, Gianyar, Dalam Seni Pertunjukan Bali di Era Global”, dinyatakan lulus dari Pendidikan Doktor dan berhak memakai gelar Doktor.(pps.unud/budi)

Eksistensi Perguruan Kebatinan Sandhi Murti Indonesia Dalam Bidang Kanuragan di Bali

Dilatarbelakangi beberapa faktor yaitu terbatasnya studi akademis tentang praktik kanuragan, selain itu kanuragan juga diberikan stigma sebagai praktik pengleakan yang diasosiasikan sebagai ilmu hitam dan pemujaan setan(diabolisme). Hal ini menjadi dasar pemikiran Ida Ayu Made Gayatri dari Program Doktor Kajian Budaya untuk melakukan penelitian mendalam sehingga menghasilkan sebuah karya tulis dalam bentuk disertasi yang berjudul “Eksistensi Perguruan Kebatinan Sandhi Murti Indonesia Dalam Bidang Kanuragan Di Bali”. Disertasi tersebut telah diuji dalam sidang terbuka Promosi Doktor pada hari Rabu, 14 Januari 2015 yang dihadiri oleh para penyanggah dan undangan akademik, dan telah memenuhi persyaratan sesuai dengan aturan pada Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Menurut Gayatri, ada empat hal menarik dari praktik sosial Sandhi Murti dalam bidang kanuragan, yaitu (1) Sandhi Murti memproduksi wacana mistik yang identik dengan stigma dan praktik pengleakan, (2) eksistensi Sandhi Murti sebagai perguruan bela diri tenaga dalam yang berasosiasi dengan kekerasan, (3) Sandhi Murti menjadi instrumen kekuasaan dengan menjadi presure group atau kelompok kepentingan, (4) hegemoni Sandhi Murti telah meluas hingga keluar negeri.

Dikatakannya, penelitian ini secara umum bertujuan untuk memahami dinamika sosial-budaya, serta mengapresiasi berbagai strategi dan proses kreatif masyarakat Bali dalam mempertahankan, mengembangkan nilai-nilai yang dianggap berharga bagi kehidupan terutama dalam bidang kanuragan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian kebudayaan, dan menghasilkan temuan akademis terutama dalam bidang kanuragan.

Setelah mengikuti dengan seksama proses penyanggahan dan mempertimbangkan prestasi akademik serta hasil Ujian Tertutup, maka sidang menyatakan Ida Ayu Made Gayatri, S.Sn.,M.Si., lulus Pendidikan Doktor dan berhak memakai gelar Doktor.(pps.unud/budi)

Promosi Doktor Ir. I Ketut Sardiana, M.Si

Hari ini, Selasa tanggal 13 Januari 2015  Program Pascasarjana menyelenggarakan ujian Promosi Doktor dengan Promovendus Ir. I Ketut Sardiana, M.Si., dari Program Studi Doktor Ilmu Pertanian, dalam disertasi yang berjudul “Simpanan Karbon Organik, Kualitas Tanah, dan Hasil Caisin (Brassica Chinensis) pada Pertanian Organik dan Konvensional di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali”.

Menurut Promovendus, perubahan iklim merupakan implikasi dari pemanasan global akibat pengaruh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer telah menjadi isu penting pada beberapa dekade terakhir. Pertanian memegang peran penting dalam mitigasi perubahan iklim tersebut dengan cara mengurangi emisi GRK ke atmosfer melalui simpanan karbon (C) pada tanah dan tanaman. Kapasitas mengikat C tanah pertanian dan tanah terdegradasi memerlukan waktu lama dari beberapa tahun bahkan hingga puluhan tahun. Jumlah simpanan C organik tanah sangat ditentukan oleh praktek pengelolaan lahan atau teknik budidaya pertanian.

Kecamatan Baturiti merupakan sentra penghasil sayuran dataran tinggi utama di Bali. Wilayah ini menghasilkan sayuran mencapai 43.673 ton pada tahun 2010 atau sekitar 35,80% dari total hasil sayuran di Bali (BPS,2010). Caisin (Brassica chinensis) adalah salah satu jenis tanaman sayur yang banyak dibudidayakan di Baturiti.

Promovendus mengatakan, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji simpanan C organik, kualitas tanah, dan hasil caisin pada sistem pertanian organik dan konvensional serta mengetahui kombinasi pupuk organik dan kimia (NPK) yang memberikan hasil caisin yang tidak berbeda dengan pertanian konvensional di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Pengambilan sampel tanah, hasil caisin dan lahan percobaan in situ berlokasi di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Sifat fisik dan biologi tanah dianalisa di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unud Bali, sedangkan sifat kimia tanah dianalisa di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran Departemen Pertanian, Lembang Bandung. Penelitian ini dilakukan selama 15 bulan yaitu bulan Oktober s.d. April 2013. Penelitian ini secara garis besar dibagi menjadi dua tahap, yaitu survei dan pengambilan sampel tanah untuk membandingkan simpanan C organik, kualitas tanah, dan hasil caisin pada pertanian organik dan konvensional. Selanjutnya berupa percobaan lapangan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pupuk organik dan kimia (NPK) terhadap hasil caisin.

Setelah mengiktui proses penyanggahan dan dengan mempertimbangkan prestasi akademik serta hasil Ujian Tahap I (ujian Tertutup), sidang menyatakan bahwa Promovendus lulus Pendidikan Doktor dan berhak menyandang gelar Doktor. (pps.unud/budi)

Pengumuman Jadwal Registrasi Hasil Seleksi Program Pascasarjana, Profesi dan PPDS Semester Genap Tahap I dan II Tahun Akademik 2014/2015

Rektor Universitas Udayana telah menetapkan hasil seleksi penerimaan mahasiswa karyasiswa baru Program Pascasarjana, PPDS, dan Profesi Universitas Udayana Semester Genap Tahap II Tahun Akademik 2014/2015.

  1. Surat Keputusan Rektor
  2. Daftar Hasil Seleksi Tahap I
  3. Daftar Hasil Seleksi Tahap II
  4. Besaran UKT (Uang Kuliah Tunggal)

 

Promosi Doktor Ilmu Kedokteran a.n Tjokorda Gde Agung Senapathi

Anastesi regional memiliki efek antiinflamasi yaitu dengan memblokade serabut-C sehingga mengurangi produksi sitokin dan memblok aktifitas serabut saraf simpatis. Nyeri pascaoperasi diakibatkan terutama oleh jaringan dan aktifitas serabut-C sehingga dengan mengurangi produksi sitokin, anestesi regional dapat membatasi respon inflamasi setelah pembedahan dan tingkat keparahan nyeri pascaoperasi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental klinis dengan rancangan randomized control group pre and post test, yang diuji pada ujian terbuka Promosi Doktor yang dilaksanakan pada hari Senin, 12 Januari 2015 atas nama Promovendus: dr. Tjokorda Gde Agung Senapathi, Sp.An.KAR. Setelah mengikuti proses penyanggahan terhadap disertasi dan dengan mempertimbangkan prestasi akademik selama masa studi, sidang menyatakan Promovendus lulus pendidikan Doktor dengan disertasi yang berjudul: “Anestesi Regional Blok Pleksus Brakhialis Kontinyu dengan Tuntunan Ultrasosnografi Menurunkan Kadar Interleukin-6 dan Platelet Activating Factor serta Meningkatkan Kadar Interleukin-10 dan Memperbaiki Luaran Klinis Dibanding dengan Anestesi Umum pada Operasi Antebrachii”. (pps.unud/budi)