Pimpinan Program Pascasarjana

Tari Cakrawartin dan Padus Pascasarjana

Kuliah Perdana

Pengabdian Kepada Masyarakat

Lokakarya Pascasarjana Unud

Putu Ruliati : ” MODIFIKASI KONDISI KERJA BERBASIS ERGO-TRI HITA KARANA MENINGKATKAN KESEHATAN KERJA DAN PRODUKTIVITAS PEKERJA PENGGILINGAN PADI DI DESA JINENGDALEM BULELENG “

Jumat, 27 Mei 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Luh Putu Ruliati, SKM.,M.Kes dari Program Doktor Ilmu Kedokteran dengan disertasinya yang berjudul MODIFIKASI KONDISI KERJA BERBASIS ERGO-TRI HITA KARANA MENINGKATKAN KESEHATAN KERJA DAN PRODUKTIVITAS PEKERJA PENGGILINGAN PADI DI DESA JINENGDALEM BULELENG. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Dalam masyarakat Bali dikenal dengan filosofi Tri Hita Karana (THK.) merupakan suatu konsep hubungan yang harmonis dan sudah ditanamkan dalam suatu kegiatan apapun dan bersifat universal termasuk usaha penggilingan padi. Keberhasilan produksi dan peningkatan kesehatan kerja di penggilingan padi sangat ditentukan oleh kondisi kerja yang aman, nyaman dan sehat. Kondisi kerja yang tidak ergonomis menyebabkan pekerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem Buleleng tidak bisa bekerja optimal. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah menerapkan intervensi ergonomi dengan menitikberatkan pada ergo THK..

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan Randomized Pretest and Posttest Control Group Design. Rancangan ini merupakan rancangan paralel dengan jumlah sampel 30 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan. Kelompok Kontrol adalah pekerja yang bekerja dengan kondisi kerja lama berjumlah 15 orang dan 15 orang lainnya sebagai Kelompok Perlakuan yaitu pekerja yang bekerja dengan kondisi kerja yang telah diperbaiki secara ergo THK.. Data kinerja pekerja antara kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan dibandingkan dan dianalisis dengan uji Independent Sampie t test pada taraf signifikan 5% (a.= 0,05).

Data hasil penelitian diperoleh bahwa terjadi peningkatan kesehatan kerja dilihat dari penurunan beban kerja pada Kelompok Perlakuan sebesar 21,43%, penurunan keluhan muskuloskeletal sebesar 35,95%, penurunan ketegangan otot sebesar 66,55%, penurunan kelelahan sebesar 27,31%, peningkatan fungsi paru sebesar 6,7%. Terjadi peningkatan produktivitas kerja sebesar 25,78. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ergo THK memberikan pengaruh terhadap peningkatan kesehatan kerja dan produktifitas.

Disimpulkan bahwa modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK dengan intervensi ergonomi melalui penerapan TTG melalui pendekatan SHIP dapat meningkatkan kesehatan kerja berdasarkan penurunan beban kerja, penurunan keluhan muskuloskeletal, penurunan ketegangan otot, penurunan kelelahan, peningkatan fungsi paru dan terjadi peningkatkan produktivitas kerja. (pps.unud/IT)

Penerimaan Mahasiswa Baru Semester Ganjil Tahap II

Universitas Udayana kembali membuka penerimaan mahasiswa/karyasiswa baru pada program Doktor (S3), Magister (S2)dan Profesi untuk semester Ganjil Tahap II Tahun Akademik 2016/2017.

Ida Ayu Trisnawati : ” Marginalisasi Seni Pertunjukan Gandrung Tradisi Lombok, Nusa Tenggara Barat “

Senin, 16 Mei 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Ida Ayu Trisnawati, SST.,M.Si dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul Marginalisasi Seni Pertunjukan Gandrung Tradisi Lombok, Nusa Tenggara Barat “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Seni pertunjukan Indonesia memiliki ciri istimewa, yaitu sebagai sebuah seni yang sangat lentur dan cair karena I lingkungan masyarakatnya selalu berada dalam kondisi yang terus berubah-ubah pada suatu kurun waktu tertentu, mapan, dan tumbuh sebagai suatu “tradisi”. Perkembangan kehidupan masyarakat telah mengubah aspek seni pertunjukan mengikuti perkembangan zaman. Perubahan juga terjadi pada salah satu seni pertunjukan gandrung tradisi di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Nusa Tenggara Barat. Perkembangan pemahaman agama dari Islam Sasak we tu telu ke Islam Sasak waktu lima telah memberikan dampak luas bagi perkembangan seni pertunjukan gandrung tradisi yang ada di daerah ini. Untuk memahami yang terjadi dengan gandrung tersebut, maka dirumuskan beberapa tujuan, yaitu untuk mengetahui bentuk marginalisasi seni pertunjukan gandrung tradisi, alasan mengapa seni pertunjukan gandrung tradisi mengalami marginalisasi, serta implikasi dan makna bagi masyarakat di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Agar diperoleh data yang valid maka pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen yang berhubungan dengan gandrung tradisi. Hasil pengumpulan data selanjutnya dianalisis dengan menggabungkan teori subaltem (Gayatri Chakravorty Spivak), teori praktik sosial (Pierre Bourdieu), dan teori dekonstruksi (Jacques Derrida). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya penguatan fundamentalisme agama Islam, dari Islam wetu telu ke Islam waktu lima pada masyarakat Sasak. Penguatan fundamentalisme agama Islam sangat berpengaruh terhadap keberadaan seni pertunjukan gandrung tradisi dan pergulatan politik identitas dalam seni pertunjukan tari gandrung. Secara detail hasil penelitian menunjukkan bentuk marginalisasi seni pertunjukan gandrung tradisi Lombok, Nusa Tenggara Barat terdiri dari memudamya spirit melalui representasi tema dan gerak tari; keterpinggiran aspek busana dan tata rias,dan keterpinggiran aspek musik iringan, tata panggung dan penonton yang menikmati tari gandrung tradisi. Selanjutnya yang melatarbelakangi marginalisasi seni pertunjukan gandrung tradisi ditinjau dari terbatasnya peran pemerintah, adanya penguatan fundamentalisme keagamaan, setting kebudayaan di era globalisasi dan ketidakberdayaan komunitas pendukung tari gandrung tradisi. Implikasi marginalisasi antara lain bergesernya nilai seni pertunjukan gandrung tradisi, terpinggirkannya seni gandrung tradisi dari kesenian budaya Sasak. Dipihak lain makna marginalisasi ditinjau dari aspek makna transformasi kreativitas seni pertunjukan gandrung tradisi; makna solidaritas pendukung seni pertunjukan gandrung tradisi, dan makna pergulatan kekuasaan. (pps.unud/IT)

Ni Putu Sriwidyani : ” TUMOR BUDDING PADA KARSINOMA PAYUDARA: HUBUNGANNYA DENGAN EKSPRESI E-CADHERIN DAN MMP-9 SERTA RISIKO METASTASIS “

Jumat, 13 April 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda dr. Ni Putu Sriwidyani, Sp.PA dari Program Doktor Ilmu Kedokteran dengan disertasinya yang berjudul TUMOR BUDDING PADA KARSINOMA PAYUDARA: HUBUNGANNYA DENGAN EKSPRESI E-CADHERIN DAN MMP-9 SERTA RISIKO METASTASIS. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Metastasis merupakan penyebab mortalitas utama karsinoma payudara. Salah satu marka prognosis baru diantaranya “tumor budding”, Tumor budding adalah sel kanker tunggal atau dalam kelompok kecil (1-5 sel) pada tepi invasi tumor. Tumor budding ini dianggap sebagai manifestasi dari perubahan epitheltal-mesenchymal transition (EMT) yang merupakan perubahan awal dari kaskade metastasis. Sel yang mengalami peristiwa EMI, pada penelitian in vitro menunjukkan penurunan ekspresi E-cadherin dan peningkatan ekspresi MMP-9.

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa ekspresi E-cadherin yang rendah dan MMP-9 yang tinggi berhubungan dengan high grade tumor budding, serta high grade tumor budding sebagai faktor risiko metastasis pada karsinoma payudara. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang dan
kasus-kontrol pada kasus karsinoma payudara dengan metastasis dan . Penelitian dilakukan dengan subyek penelitian 35 pasien karsinoma payudara dan 35 kasus tanpa metastasis. Evaluasi tumor budding dilakukan pada sediaan imunohistokimia sitokeratin dengan pembesaran 400x (0,57mm2) oleh dua observer, Reabilitas interobserver dinilai dengan uji Kappa. Hubungan antara ekspresi E-cadherin dan MMP-9 dengan grade tumor budding dinilai dengan uji chi square. High grade tumor budding sebagai faktor risiko metastasis diuji dengan uji chi square, odd ratio, dan analisis regresi logistik, dengan tingkat kemaknaan p<0,05.

Berdasarkan nilai titik potong pada analisis ROC, subyek penelitian dikelompokkan menjadi kasus dengan high grade tumor budding (≥11 bud) dan low grade tumor buding < 11 bud). Uji reliabilitas interobserver menunjukkan reprodusibilitas yang baik dengan nilai Kappa 0,914. E-cadherin yang rendah tidak terbukti berhubungan dengan high grade tumor budding (p=0,660), sementara MMP-9 yang tinggi terbukti secara signifikan berhubungan dengan high grade tumor budding (p=0,001). High grade tumor budding terbukti secara signifikan sebagai faktor risiko independen metastasis (OR=38,2, 95CI 7,5-193,7, p<0,001). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada karsinoma payudara dengan high grade tumor budding berhubungan dengan ekspresi MMP-9 yang tinggi tetapi tidak dengan ekspresi E-cadherin yang rendah, dan high grade tumor budding merupakan faktor risiko independen metastasis pada karsinoma payudara. (pps.unud/IT)

Pengumuman Hasil Kelulusan Seleksi Mahasiswa Baru Program Profesi dan Pascasarjana Tahun 2016

pengumuman_pasca_2016-2277602585.jpg

1. Pengumuman Jadwal Pembayaran dan Registrasi dapat dilihat [ DISINI ]

2. Daftar Nama Peserta yang dinyatakan Lolos dapat dilihat [ DISINI ]

3. Biaya Pendidikan masing-masing Program Studi dapat dilihat [ DISINI ]

4. Petunjuk Pembayaran SPC di Bank BNI dapat dilihat [ DISINI ]

 

Kemristekdikti Lahirkan “BUDI”

Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia yang disingkat sebagai BUDI, yaitu program beasiswa baru dari Pemerintah Indonesia untuk melanjutkan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang selama ini dikelola Ditjen Sumberdaya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

BUDI diciptakan khusus untuk dosen tetap Indonesia dari Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di bawah lingkup Kemenristekdikti. Dengan demikian diharapkan jumlah dosen tetap yang diampu oleh Kemristekdikti akan terus ditingkatkan kuantitas serta kualitasnya.

BUDI merupakan program bersama antara Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) dengan Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) yang diharapkan menjadi milestone kegiatan lintas kementerian.

“Dengan mengkolaborasikan pengalaman panjang pengelolaan beasiswa yang telah dikuasai oleh Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti dengan keunggulan cash management yang dimiliki oleh LPDP, sinergi ini akan menguntungkan para penerima beasiswa karena diharapkan proses penerimaan uang beasiswa akan berjalan lebih lancar,” ujar M. Nasir (Menristekdikti) dalam sambutannya pada peluncuran BUDI di Puspiptek Serpong (02/05).

Pada kesempatan yang sama ditandatangani pula nota kesepahaman antara Dirjen SDID Ali Ghufron dengan Direktur Utama LPDP Eko Prasetyo

BUDI terbuka untuk semua dosen tetap dari perguruan tinggi negeri/swasta yang telah memiliki NIDN/NIDK (Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus) dan persyaratan-persyaratan lain yang tertera pada www.budi.ristekdikti.go.id. Seleksi beasiswa secara sinergi akan dilakukan antara Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Pascasarjana, Ditjen SDID dan LPDP untuk pendidikan pascasarjana di dalam negeri.  Sedangkan untuk pendidikan pascasarjana di luar negeri seleksi dilakukan secara bersama oleh Ditjen SDID dengan LPDP.

BUDI menyalurkan dana beasiswa sesuai dengan standar LPDP, baik dalam hal besaran maupun mekanisme pencairan dananya. Beasiswa ini akan memantau perkembangan kemajuan studi penerima beasiswa dan kinerja perguruan tinggi penyelenggara pendidikan pascasarjana.

Kini seluruh dosen di Indonesia memiliki peluang lebih luas lagi untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi. Diharapkan seluruh dosen dapat berkompetisi secara sehat dan mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga memberi kontribusi tinggi bagi proses belajar dan mengajar yang berjalan lebih cemerlang. Dengan demikian diharapkan pula akan tercetak generasi anak didik berkualitas yang memiliki daya saing di dunia internasional, serta berkepribadian mulia. (Sumber: Kemenristek Dikti,2016)

Pius Bere : ” Reformulasi Sanksi Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti Dalam Undang Undang Tindak Pidana Korupsi “

Senin, 25 April 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus Pius Bere, S.H.,M.Hum dari Program Doktor Ilmu Hukum dengan disertasinya yang berjudul Reformulasi Sanksi Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti Dalam Undang Undang Tindak Pidana Korupsi “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

IMG_8823

Promovendus foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Tindak pidana korupsi di lndonesia sudah terjadi secara massif, terstruktur dan meluas melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari pihak legislatif, eksekutif dan yudikatif bahkan korupsi telah merambah pada sector swasta dan menimbulkan kerugian keuangan negara dan perekonomian negara, melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Penelitian ini difokuskan pada masalah “Reformulasi Sanksi Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti Dalam Undang Undang Tindak Pidana Korupsi” sebagai upaya pengembalian kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi. Ada norma hukum yang kabur dalam ketentuan Pasal 17 dan Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999, yang terlihat dari penggunan frasa “dapat” dalam rumusan norma pasal dimaksud, sehingga penerapan pidana tambahan “Pembayaran Uang Pengganti” sesuai ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 sangat tergantung pada diskresi hakim.

Masalah yang dikaji yaitu (1) Mengapa diperlukan sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi?; (2) Bagaimana formulasi/rumusan sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi? dan (3) Bagaimana sebaiknya formulasi / rumusan sanksi pidana pembayaran uang pengganti dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi perspektif ius constituendum? Penelitian ini termasuk tipe penelitian hukum normatif, yang mengandalkan sumber bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder . Metode pendekatan yang digunakannya itu pendekatan perundang-undangan, pendekatan komparatif, pendekatan sejarah dan pendekatan filosofis.Teknik analisis bahan hukum dilakukan melalui tahapan inventarisasi, sisternatisasi, interpretasi dan evaluasi terhadap bahan hukum.

Hasil penelitian membuktikan bahwa pengaturan sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memiliki urgensitas sebagai upaya pengembalian kerugian keuangan negara. Rumusan norma sanksi pidana tambahan dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 bersifat fakultatif sehingga penerapannya tergantung pada diskresi hakim, yang berdampak sering terjadi disparitas pemidanaan yang menciderai rasa keadilan masyarakat. Penulis mengusulkan agar sanksi pidana tambahan pembayaran uang pengganti ditetapkan sebagai salah satu jenis pidana pokok dengan formulasi/rumusan norma “wajib” diterapkan terhadap pelaku tindak pidana korupsi sebagai sarana untuk mengembalikan kerugian negara. Selain itu, Jaksa wajib menyita harta benda terpidana ketika terpidana tidak membayar uang pengganti. Demikian juga jika terpidana tidak memiliki harta benda yang cukup untuk membayar uang pengganti, maka terpidana harus dihukum dengan pidana penjara minimal selama 5 (lima) tahun penjara untuk memberikan efek jera. (pps.unud/IT)

A.A. Istri Kesumadewi : ” EVALUASI KERUSAKAN TANAH BUDIDAYA SAYURAN DAN POTENSI BAKTERI PELARUT FOSFAT DALAM MENINGKATKAN HASIL BAWANG DAUN (ALLIUM PORUM, L.) DI DESA CANDIKUNING “

Jumat, 22 April 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovenda Ir. A.A. Istri Kesumadewi, M.Si dari Program Doktor Ilmu Pertanian dengan disertasinya yang berjudul EVALUASI KERUSAKAN TANAH BUDIDAYA SAYURAN DAN POTENSI BAKTERI PELARUT FOSFAT DALAM MENINGKATKAN HASIL BAWANG DAUN (ALLIUM PORUM, L.) DI DESA CANDIKUNING “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

IMG_8769

Promovenda foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Hubungan antara budidaya sayuran pada Andisol dataran tinggi dengan kerusakan tanah dan bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan issue penting. Oleh karena itu, sebuah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui: (I) kerusakan tanah budidaya sayuran dan perbedaan indeks kerusakan tanah antar pola tanam sayuran, (2) perbedaan total populasi dan kemampuan in vitro BPF antar pola tanam dan jenis tanaman sayuran, (3) jenis BPF terbaik, dan (4) pengaruh BPF terbaik terhadap hasil tanaman bawang daun dan jumlah pupuk P yang dapat disubstitusi.

Penelitian dilakukan dalam empat tahap percobaan untuk mencapai tujuan diatas. Percobaan tersebut adalah (I) evaluasi kerusakan tanah budidaya sayuran pada pola tanam (monokultur selada, monokultur bawang daun dan strip intercroppingi, (2), penghitungan jumlah total populasi dan kemampuan BPF dari jenis penggunaan lahan dan tanaman tersebut, (3) seleksi dan identifikasi spesies isolat BPF terbaik, dan (4) pengujiannya pada tanaman bawang daun (Allium porum, L.) dengan media tanam tanah dari ketiga pola tanam sayuran di atas. Penelitian pertama dan kedua dilakukan dengan metode survey dilanjutkan dengan analisis laboratorium, sedangkan penelitian ketiga dan keempat dirancang dengan RAL 3 ulangan pada penelitian laboratorium dan rumah kaca.

IMG_8772

Pemberian ucapan selamat kepada keluarga promovenda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya sayuran di Desa Candikuning memperbaiki sifat kimia tanah, namun menurunkan kadar air kapasitas lapang, dan berdampak negatif terhadap beberapa sifat biologi tanah. Budidaya sayuran tidak menyebabkan kerusakan tanah yang dicirikan oleh indeks positif kerusakan tanah sebesar 33,60% (monokultur selada); 32,07% (strip intercropping); dan 25,16% (monokultur bawang daun). Tanah pada pola tanam strip intercropping dan rhizosfer tanaman wortel memiliki total populasi BPF tertinggi, yaitu berturut-turut sebesar 19,91×106 dan 16,49x 106 CFU g-1 tanah. Isolat BPF terbaik 98,81% identik dengan Enterobaeter asburiae dan mampu menyubstitusi 50% (155,5 kg ha-1) kebutuhan pupuk P tanpa menurunkan hasil tanaman bawang daun pada tanah monokultur bawang daun dan strip intercropping. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah (1) budidaya sayuran memperbaiki sifat kimia tanah namun berdampak negatif terhadap sifat fisika dan biologi tanah, (2) pola tanam strip intercropping dan budidaya wortel terbaik dalam menjaga populasi BPF, (3) isolat BPF indegenus terbaik tergolong E. asburiae, dan (4) isolat tersebut menghemat penggunaan pupuk’ SP36 sebesar 50% dari dosis pupuk (155,5 kg SP36 ha-1) untuk tanaman bawang daun pada tanah monokultur bawang daun dan strip intercropping. (pps.unud/IT)

I NYOMAN SUKERNA : ” TRANSFORMASI TRADISI BARONG NGELAWANG DI KAWASAN PARIWISATA UBUD, GIANYAR, BALI “

Senin, 11 Maret 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul TRANSFORMASI TRADISI BARONG NGELAWANG DI KAWASAN PARIWISATA UBUD, GIANYAR, BALI “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Masyarakat Bali terkenal dengan keunikan berbagai tradisi keagamaan dan budayanya. Salah satu tradisi yang masih berlangsung sampai sekarang adalah pementasan barong mengelilingi desa (ngelawang). Aktivitas yang dilakukan pada setiap Hari Raya Galungan dan Kuningan serta Sasih Kanem, bertujuan untuk menetralisir kekuatan dan pengaruh negatif (sebagai penolak bala) secara ritual. Globalisasi membawa nilai-nilai baru menyentuh semua sendi-sendi kehidupan, salah satu di antaranya adalah terjadi transformasi dalam tradisi barong ngelawang. Penelitian ini bertujuan untuk membahas pola transformasi, ideologi, dan pemaknaan masyarakat terhadap tradisi barong ngelawang di kawasan pariwisata Ubud Gianyar Bali.

Penelitian yang dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan pendekatan dari berbagai aspek ini, melihat tradisi barong ngelawang sebagai sebuah teks untuk dipahami konteksnya, mengapa, dan bagaimana semua itu dilakukan. Sebagai alat analisis dalam rangka mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian ini digunakan empat teori, yaitu teori praktik sosial, teori ideologi, teori dekonstruksi, dan teori semiotika. Pengumpulan data dalam penelitian ini didapat melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Penelitian dengan mengaplikasikan metode deskriptif interpretatif ini, hasil kajiannya menunjukkan sebagai berikut. (1) Pola transformasi dalam tradisi barong ngelawang di Ubud selain dari sakral ke sekuler, juga terdapat pola transformasi dari sekuler ke sakral. Pola transformasi barong ngelawang juga terjadi dalam aktivitas ngelawang utamanya yang terkait dengan dimensi ruang dan waktu; (2) Ideologi yang mendasari dalamaktivitas barong ngelawang sakral maupun sekuler di Ubud terdapat dominasi landasan ideologi yang berbeda-beda. Kegiatan barong ngelawang sakral, landasan ideologi yang kuat adalah ideologi religi. Dalam aktivitas barong ngelawang sekuler didominasi oleh ideologi pasar; dan (3) Nilai-nilai yang dapat diungkap sehubungan dengan pemaknaan terhadap aktivitas barong ngelawang di Ubud dalam konteks ideologis adalah makna agama dan makna kesenian. Dalam konteks struktur sosial, makna stratifikasi sosial, makna pembagian kerja, dan makna pendidikan. Makna ekonomi dalam konteks infrastruktur . Ada dua temuan dalam penelitian ini, yiatu (1) Pola transformasi tradisi barong ngelawang di Ubud selain dari sakral ke sekuler juga ada yang dari sekuler ke sakral. Sesuai dengan teori modernisasi yang secara umum menganggap hal yang sakral cenderung menjadi sekuler atau terjadi desakralisasi. Pola transformasi barong ngelawang di Ubud menunjukkan fenomena yang terjadi tidak seperti itu. (2) Barong ngelawang di Ubud telah mengalami transformasi dari sekala yang kecil ke sekala yang lebih luas. Pada awalnya barong ngelawang berdimensi religiusitas dan berkesenian, lalu menuju dimensi sosial khususnya identitas. Oleh karena itu, jumlah barong di Ubud menjadi semakin bertambah secara kuantitas. (pps.unud/IT)

I GEDE YUDARTA : ” REPRODUKSI SENI KEKEBYARAN DI KOTA MATARAM NUSA TENGGARA BARAT “

Jumat, 8 Maret 2016. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus I Gede Yudarta, S.SKar., M.Si dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul REPRODUKSI SENI KEKEBYARAN DI KOTA MATARAM NUSA TENGGARA BARAT “. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.

IMG_8661

Promovendus foto bersama dengan Pimpinan Sidang, Promotor, Kopromotor dan Tim Penguji setelah sidang selesai

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Seni kakebyaran merupakan seni pertunjukan beridentitas budaya Bali yang sangat populer tidak saja di Bali, namun sudah meluas menembus ke wilayah propinsi, negara- negara di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, penyebaran seni kakebyaran terjadi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa di Kota Mataram lewat jargon “Maju, Religius dan Berbudaya”, menegaskan orientasi pembangunan di Kota Mataram mempergunakan pendekatan nilai-nilai keagamaan yaitu Islam dan mengurangi simbol agama dan budaya lain. Situasi seperti itu, menjadi tantangan bagi masyarakat etnik Bali untuk mengembangkan seni, tradisi dan budaya khususnya pengembangan seni kakebyaran.

IMG_8662

Pemberian ucapan selamat kepada keluarga promovendus

Fenomena ini menjadi ranah studi budaya yang sangat menarik diteliti secara lebih mendalam. Terdapat tiga permasalahan terkait dengan fenomena tersebut yaitu: 1) bentuk dan fungsi reproduksi seni kakebyaran, 2) mengapa terjadi reproduksi seni kakebyaran serta 3) bagaimanakah dampak dan makna reproduksi seni kakebyaran terhadap masyarakat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan metode kualitatif sesuai dengan kaidah penelitian ilmiah dan paradigma kajian budaya. Untuk menganalisis permasalahan tersebut dipergunakan tiga teori diantaranya teori reproduksi budaya, teori identitas dan teori semiotika. Ketiga teori tersebut dipergunakan secara eklektis untuk membahas substansi pokok bahasan. Hasil analisis pembahasan dari rumusan permasalahan dideskripsikan sebagai berikut: pertama, bentuk reproduksi seni kakebyaran terdiri dari musikalitas, bentuk dan instrumen, tata penyajian, serta fungsi. Kedua, beberapa aspek penyebab terjadinya reproduksi seni kakebyaran, seperti: budaya, komunikasi budaya dan ekonomi. ketiga, dampak dan makna reproduksi seni kakebyaran yaitu: spiritual, sosio-kultural, dampak ekonomis, makna astetikiartistik,makna edukatif dan makna kultural. (pps.unud/IT)