Pimpinan Program Pascasarjana

Magister Kajian Pariwisata

Akreditasi Magister Ilmu Hukum

The Summer Class

Seminar Research Prodia

Temu Stakeholder Magister Ilmu Hukum

Temu Stakeholder Magister Ilmu Hukum

PS. Ilmu Lingkungan di Payangan

Kunjungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau di Unud

Seminar Nasional Teknik Sipil (SeNaTS) 1 – Aplikasi dan Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan dalam Bidang Teknik Sipil

Teknologi sebagai produk iptek diciptakanuntuk meningkatkankesejahteraan manusia. Namun dalam aplikasi dan atau pengembangan selanjutnya, ketersediaan sumber daya alam, kondisi lingkungan maupun dampak negatif dari penerapan suatu teknologi sering kurang diperhatikan.

Kondisi ini, sampai tingkat tertentu dapat mengurangi manfaat yang dituju atau bahkan membahayakan keberlanjutan eksistensi bumi dan kehidupannya. Kesadaran akan hal ini mendorong ilmuwan, rekayasawan maupun praktisi dalam berbagai bidang, termasuk bidang Teknik Sipil yang berhubungan erat dengan industri jasa konstruksi, untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan guna menjamin keberlanjutan bumi dan isinya.

Untuk mendukung perspektif tersebut, Program Magister Teknik Sipil Program Pascasarjana Universitas Udayana akan menyelenggarakan Seminar Nasional Teknik Sipil (SeNaTS) 1 pada hari Sabtu, 25 April 2015. Seminar yang bertema “Aplikasi dan Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Bidang Teknik Sipil”. Kegiatan ini bertujuan sebagai salah satu wadah komunikasi dan tukar informasi bagi ilmuwan, rekayasawan maupun praktisiyang memiliki perhatian dan atau pengalaman di bidang teknologi ramah lingkungan.(pps.unud/budi)

Untuk informasi lebih lengkap silahkan kontak :

1. I Nyoman Sutarja (HP : 08123953036)

2. Ida Bagus Rai Widiarsa (081236001899)

http://www.unud.ac.id/ind/event/index.php/2015/seminar-nasional-teknik-sipil-senats-1-aplikasi-dan-pengembangan-teknologi-ramah-lingkungan-dalam-bidang-teknik-sipil.html

Syahrun: ” Komodifikasi Ritual Tuturangiana Andala Pada Masyarakat Nelayan Pulau Makasar Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara”

Senin, 20 April 2015. Program Pascasarjana Universitas Udayana menyelenggrakan sidang terbuka ujian promosi doktor atas nama promovendus : Syahrun dari Program Studi Doktor Kajian Budaya.

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa ritual tuturangiana andala merupakan tradisi melarung sesaji di laut yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh  masyarakat nelayan Pulau Makassar, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada era kemajuan teknologi saat ini, ritual tuturangiana andala telah dipengaruhi oleh praktik komodifikasi sehingga proses ritual yang tadinya pelaksanaannya lebih sederhana dan sakral, sekarang menjadi lebih meriah karena pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengemas ritual ini sebagai ajang  promosi daerah. Pemerintah Kota Baubau melakukan perubahan tampilan ritual tuturangiana andala untuk kebutuhan yang bersifat komoditatif, segala sesuatu dijadikan barang yang bernilai jual untuk mendapatkan keuntungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Ada empat masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini,  yaitu (I) bagaimanakah proses komodifikasi ritual tuturangiana andala, (2) bagaimanakah masyarakat Pulau Makassar memaknai komodifikasi ritual tuturangiana andala, (3) bagaimanakah implikasi komodifikasi ritual tuturangiana andalaterhadap . sistem sosial kultural masyarakat, (4) bagaimanakah strategi pewarisan ritual naurangiana andala. Pengkajian terhadap masalah tersebut menggunakan teori semiotika, teori ritus dan teori wacana kekuasaan/pengetahuan. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara mendalam, observasi langsung di wilayah Pulau Makassar, dan dokumentasi.

Hasil penelitian dapat dipilah menjadi empat bagian. Pertama, lahirnya komodifikasi ritual tuturangiana andala didasari oleh keinginan pemerintah Kota Baubau untuk mempromosikan diri sebagai daerah tujuan wisata di kawasan Indonesia Timur. Di tengah pengaruh arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi saat ini ritual tuturangiana andala oleh pemerintah Kota Baubau dijadikan sebagai bahan komoditas untuk menarik wisatawan dengan menyelenggarakan event Festival Perairan Pulau Makassar. Kedua, komodifikasi ritual ttaurangiana andala memiliki makna, di antaranya: (1) makna filosofi, yaitu masyarakat meyakini ritual ini sebagai sarana pembebasan diri manusia atas segala bencana, (2)  makna ekonomi, secara ekonomi tradisi ritual tuturangiana andala dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan pendapatan daerah. (3) makna pelestarian budaya terhadap komodifikasi ritual, diketahui bahwa tradisi ritual tuturangiana andala yang dimiliki masyarakat Pulau Makassar agar dapat dihidupkan kembali, sebagai upaya pelestarian nilai budaya dari ancaman kepunahan, mengingat dalam tradisi ritual tuturangiana andala terdapat banyak nilai kehidupan yang positif dan harus dipertahankan. Ketiga, komodifikasi ritual tuturangiana andala berimplikasi kepada komponen sistem sosiokultural masyarakat nelayan Pulau Makassar yang meliputi superstruktur ideologis, struktur sosial, dan infrastruktur material, diantaranya di bidang ideologi umum, agama, Ilmu pengetahuan, kesenian, politik, stratifikasi sosial, keluarga dan kekerabatan, pendidikan, ekonomi, dan ekologi. Keempat, sebagai langkah strategi pewarisan dan penyelamatan terhadap budaya ritual tuturangiana andala pemerintah telah melakukan pendokumentasian dalam bentuk film dan foto-foto untuk dapat dipublikasikan kepada generasi berikutnya. (pps.unud/bd)

Wayan Bebas: “Laktosa-Astaxanthin Mempertahankan Kualitas Semen Ayam Hutan Hijau Selama Penyimpanan”

BebasKualitas semen yang baik adalah salah satu syarat dalam penerapan  teknologi inseminasi buatan dalam upaya konservasi ayam hutan hijau secara ex-situ. Penelitian ini bertujuan untuk mempertahankan kualitas semen ayam hutan hijau selama penyimpanan pada suhu 5°C selama 48 jam dengan penambahan kombinasi laktosa-astaxanthin pada pengenncer fosfat kuning telur sehingga ketersediaan semen tetap terjaga dalam upaya menunjang penerapan teknologi inseminasi buatan. Semen yang digunakan dalam  penelitian berasal dari delapan ekor pejantan sehat yang ditampung dengan teknik massage. Semen dengan kualitas baik diencerkan dengan fosfat kuning telur dengan penambahan laktosa 0,60%, astaxanthin 0,004% dan kombinasi laktosa 0,6% astaxanthin 0,004% kemudian semen disimpan pada suhu 5°C selama 48 jam.

Setelah 48 jam penyimpanan sebagian semen dari setiap perlakuan dievaluasi meliputi : motilitas progresif, abnonnalitas, kadar MDA, fragmentasi DNA, dan sebagian semen diinsmeinasikan pada ayam kampung betina yang sedang berproduksi. Produksi telur dua hari setelah inseminasi sampai hari ke sebelas diamati untuk mengetahui fertilitas dan daya tetasnya dengan cara mengeramkan pada mesin tetas. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian ( ANOVA), apabila hasilnya berbeda dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan penambahan laktosa 0,6%, astaxanthin 0,004%, dan gabungan laktosa 0,6% astaxanthin 0,004% terhadap motilitas progresif masing masing: 66,77± 2.16%, 68,11 ± 3.01%, dan 79,66 ± 150; terhadap abnormalitas masing masing: 22,55 ± 3,20%, 2,11 ± 3,91%, dan 12,33± 2,00%; terhadap kadar MDA masing masing  126,95 ± 6,98 nmol, 122,34 ± 6,11 nmol, 119,42 ± 4, 76 nmol; terhadap fragmentasi DNA masing masing : 12,33 ± 1,93, 13,55 ± 1,81%, 7,55 ± 1,66%; terhadap fertilitas telur masing-masing: 59.76 ± 3.29%, 63.58 ± 5.51%, dan 73.43 + 4.67%;  terhadap daya tetas telur masing masing: 55,59 ± 4,92%, 56,87 ± 6,69%, dan 66,60 ± 6,16%.

Penambahan kombinasi laktosa 0,6%-astaxanthin 0,004% menghasilkan motilitas progresif, fertilitas, dan daya tetas yang nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan hanya penambahan laktosa 0,6% dan astaxanthin 0,004%, dan menghasilkan abnormalitas, MDA, dan fragmentasi DNA yang nyata lebih rendah (P<0,05) jika dibandingkan hanya penambahan laktosa 0,6% dan astaxanthin 0,004%. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi laktosa 0,6%-astaxanthin 0,004% mampu meningkatkan motilitas progresif, fertilitas, dan daya tetas serta menurunkan abnormalitas MDA, dan fragmentasi DNA.(pps.unud/bd)

I NYOMAN SUKARTHA: “KELISANAN DALAM TRADISI MABEBASAN DI BALI”

Bali sangat kaya akan kearifan lokal (local wisdom). Salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Bali adalah mabebasan. Dahulu aktivitas mabebasan memiliki pengertian menyanyikan, dan menerjemahkan kakawin secara lisan ke dalam bahasa Bali, namun, seiring dengan perkembangan zaman, pengertiana mabebasan memiliki jangkauan yang lebih luas. Mabebasan tidak saja berarti menyanyikan dan menerjemahkan kakawin secara lisan, akan tetapi mabebasan berarti menyanyikan cipta sastra tradisional seperti kakawin, sloka, prosa kawi (parwa), kidung dan geguritan. Aktivitas menyanyikan itu diikuti dengan penerjemahan ke dalam bahasa Bali. Ada tidaknya komentar dalam aktivitas mabebasan itu, tidaklah begitu penting (Sukartha, 1982: 79, Jendra, 1996: 1)

Kehidupan mabebasan di Bali dahulu memang memprihatinkan. Namun setelah terbentuknya Widyasabha, pada hari raya Siwaratri Januari tahun 1980, mabebasan mulai lebih digemari. Keadaan ini tidak bisa dilepaskan dari usaha pemerintah propinsi Bali dan para pemerhati mabebasan kala itu. Terbitnya buku- buku kakawin, kidung dan buku-buku geguritan, ditambah lagi kemajuan tekhnologi informatika (HTI), serta meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyartakat.

Bali ikut menunjang kebangkitan salah satu kearifan lokal tradisi lisan Bali, yang bernama mabebasan. Data terakhir menunjukkan bahwa kelompok mabebasan yang disebut dengan pesantian berjumlah 3141 pesantian(Sudirga, 2-13:132). Banyaknya penelitian tentang mabebasan belum ada yang meneliti kelisanannya. Pada hal kelisanan yang  ada di dalam mabebasan sangat penting untuk diketahui.  Hal itulah yang memicu penelitian ini dilakukan.

Berkaitan dengan topik penelitian di atas, dikemukakanlah masalah seperti berikut: (1) Faktor apa yang memotivasi orang belajar mabebasan? (2) Jenis wacana apa yang ada dalam mabebasan? (3) Apa fungsi dan makna mabebasan? (4) Bagaimana mekanisme pewarisan mabebasan sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat Bali.

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara jelas, lengkap dan sistematis mengenai: (1) motivasi pelisanan dalam mabebasan; (2) fungsi mabebasan sebagai tradisi lisan; (3) jenis wacana yang dilisankan dan; (4) mekanisme pewarisan tradisi lisan mabebasan di Bali.

Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan humaniora. Lebih khusus manfatnya adalah; (1) dapat memperkaya khazanah hasil penelitian tentang kearifan lokal masyarakat Bali, terutama mengenai tradisi lisan mabebasan; (2) bermanfaat bagi pengembangan teori sehingga menghasilkan temuan baru; (3) bermanfaat bagi kajian linguistik dan sastra, khususnya pada penerapan teori wacana dan teori mabebabasan; (4) bermanfaat bagi pengembangan dan pelestarian salah satu khazanah budaya bangsa yang adiluhung.(pps.unud/budi)

DEWA PUTU RAMENDRA: “PENGGUNAAN BAHASA BALI PADA GUYUB TUTUR BAHASA BALI KOTA SINGARAJA”

Tingkat tutur bahasa Bali menyediakan sejumlah ragam pilihan kode bagi penutur bahasa Bali untuk digunakan berdasarkan status dan kedekatan antara penutur-mitra tutur. Ragam itu secara umum dibedakan atas kode alus, kode biasa, dan kode kasar. Menurut norma bahasa yang berlaku, kode alus digunakan untuk bercakap-cakap dengan atau di antara peserta tutur triwangsa; kode biasa digunakan untuk bercakap-cakap dengan atau di antara peserta tutur jaba; sedangkan, kode kasar digunakan untuk bercakap-cakap dengan atau di antara peserta tutur yang sangat akrab, merujuk hewan, atau untuk mengungkapkan rasa kesal.

Sejalan dengan perkembangan zaman, dari zaman tradisional ke zaman modern, penentuan kelas sosial masyarakat Bali yang mulanya hanya berdasarkan wangsa, yakni triwangsa dan jaba, mengalami dinamika. Keanggotaan kelas sosial tidak lagi hanya bergantung pada wangsa, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti pendidikan, pekerjaan, kekayaan, dan sebagainya. Berdasarkan dinamika Itu, penutur jaba, selain triwangsa, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian kelas atas.

Dinamika sosial masyarakat tersebut menarik untuk dikaji sehubungan dengan penggunaan tingkat tutur bahasa Bali, apalagi Suastra (1998) dan Seken (2004) telah mengungkapkan bahwa penelitian-penelitian tentang penggunaan bahasa Bali masih sangat perlu untuk dilakukan.  Hal itu mendorong dilakukannya pengkajian penggunaan  tingkat tutur bahasa Bali pada guyub tutur Kota Singaraja.

Guyub tutur Kota Singaraja dipilih sebagai tempat penelitian karena beberapa keunikan sebagai berikut. Pertama, guyub tutur Kota Singaraja memiliki stereotip negatif sebagai guyub tutur yang penggunaan bahasanya kasar (Laksana, 2009: 111; dan Wingarta, 2009: 12). Kedua, Kota Singaraja sempat menjadi kota pelabuhan yang ramai dan juga pusat pemerintahan sehingga penggunaan bahasa Bali di kota itu banyak mendapat pengaruh luar (Sukrata dalam Ginarsa dkk., 1975: 28). Ketiga, berbeda dengan wilayah Bali yang lainnya, Kota Singaraja bemuansa lebih egaliter (Wingarta, 2009 :80).

Ketiga alasan itu, yang ditambah oleh fakta bahwa bahasa Bali yang digunakan di Kota Singaraja, selain di Kota Klungkung, diacu sebagai model bagi bahasa Bali ragam standar, menjadikan penggunaan bahasa Bali pada guyub tutur bahasa Bali Kota Singaraja semakin menarik untuk dikaji.(pps.unud/budi)

I Ketut Paramarta: Evolusi Etimon-etimon Proto-Austronesia (PAN) Tentang Lingkungan Dalam Bahasa Bali

Senin, 30 Maret 2015. Program Pascasarjana Universitas Udayana mengadakan sidang terbuka promosi doktor atas nama Promovendus I Ketut Paramarta dari Program Studi Doktor Linguistik. Sidang terbuka ini dipimpin oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

Dalam disertasinya promovendus menyatakan, salah satu unsur kebahasaan yang dapat membuktikan adanya hubungan keasalan bahasa-bahasa kerabat adalah keterwarisan etimon (hasil rekonstruksi perangkat kata seasal). Etimon-etimon itu merupakan simbol verbal yang merepresentasikan lingkungan dan pola-pola budaya (ekosistem kebudayaan) purba yang sangat dekat dengan masyarakat Austronesia yang diperkirakan telah berlangsung sejak 6.000 tahun yang lalu (Bellwood, 2000:160). Setelah direnkonstruksi oleh Blust (1969) etimon-etimon tersebut menghasilkan seperangkat etimon-etimon PAN tentang lingkungan, yaitu etimon yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, dapat diamati secara langsung, dan mencerminkan lingkungan dan pola budaya (ekosistem kebudayaan) dasar penutur Proto-Austronesia, seperti *babuy ‘babi’, * asu ‘anjing’, *pajey ‘padi’, * waSir ‘air’, * batu ‘batu’, * niur ‘kelapa’, dan *betun ‘jenis bambu berdiameter besar’.

Penelitian tentang evolusi etimon-etimon Proto-Austronesia (PAN) tentang lingkungan dalam BB dilatarbelakangi oleh beberaa hal. Pertama, BB menurut para peneliti LHK (Esser (1974), Dyen (1965), Blust (1982), dan Mbete (1990)) merupakan bahasa yang berasal dari protobahasa Austronesia. Persoalannya adalah bagaimana unsur-unsur bahasa PAN, khususnya etimon-etimon PAN tentang lingkungan yang sanga dekat denga budaya purba penutur Proto-Austronesiaitu, diwariskan dan berevolusi (inovasi) fonologis dan leksikal hingga menjadi beragam kreasi leksikon dalam BB belum pernah diungkap secara mendalam sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut. Kedua, evolusi etimon-etimon PAN tentang lingkungan (kompleksitas perubahan bentuk, makna, dan fungsi sosiokultural) melalui kreasi kosakata bersinonim dan kreasi kompositum dalam bahasa BB merupakan hal yang sangat penting dikaji dalam rangka mengungkap keterwarisan dan perkembangan unsur-unsur protobahasa dalam lingkungan bahasa yang baru. Ketiga, penelitian lanjutan untuk menelusuri keterwarisan unsur-unsur bahasa asal khususnya etimon-etimon PAN pada setiap bahasa turunan (berskala kecil dengan wilayah sebar yang sangat terbatas) sangat mendesak dilakukan. Kelima, identitas dan keberagaman kekayaan alam dalam wujud keanekaragaman hayati  (biodiversity) yang ada di seluruh dunia sebagian besar terekam oleh bahasa-bahasa lokal pribumi (indigenous language). Oleh karena itu, penelitian terhadap BB khususnya mengenai unsur-unsur bahasa yang mengandung pengetahuan tentang identitas dan keberagaman lingkungan yang berakar pada warisan bahasa dan budaya purba penutur Proto-Austronesia menjadi penting untuk dilakukan. (pps.unud/budi)

Info Beasiswa Dikti 2015

Pendaftaran Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN) tahun anggaran 2015 gelombang pertama dibuka bagi Dosen Tetap PTN dan PTS dilingkungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan telah terdaftar sebagai mahasiswa angkatan sedang berjalan/on-going pada Pascasarjana Penyelenggara BPP-DN periode masuk semester genap tahun akademik 2012/2013 sampai dengan semester genap 2014/2015 bagi program Doktor dan semester genap tahun akademik 2013/2014 sampai dengan semester genap 2014/2015 bagi program Magister yang dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Pendaftaran melalui http://beasiswa.dikti.go.id/bppdn/

Bagi calon pelamar yang baru akan mulai studi pada semester gasal 2015/2016 mohon tidak mendaftar pada periode ini karena akan diberikan kesempatan pada periode berikutnya.

Sumber: Dikti

Seminar Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan KKNI

Senin, 23 Maret 2015. Rektor Universitas Udayana (UNUD) yang diwakili oleh Pembantu Rektor II Bapak Prof. Dr. Ir. Ketut Budi Susrusa, MS yang didampingi oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K) membuka secara resmi seminar yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana UNUD. Seminar yang bertajuk Implementasi Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan KKNI ini merupakan kelanjutan dari kegiatan lokakarya yang telah dilakukan pada hari Rabu, 19 Maret 2015.

Seminar ini dihadiri oleh seluruh pimpinan di Program Pascasarjana, Ketua dan Sekretaris Program Studi, Tim BPMU, Tim UPM, dan dosen. Dalam seminar ini, dihadirkan sebagai pembicara Dr. Ir. Illah Sailah, MS yang merupakan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi dan Asisten Direktur I Bidang Akedemik Pascasarjana UNUD Prof. Dr. Made Budiarsa, MA., dan Prof. Dr. Indayati Lanya, MS sebagai moderator. Peserta seminar dengan antusias mengikuti acara ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan dari para peserta terkait dengan perubahan kurikulum dan proses pembelajaran pada program magister dan doktor jika PERMENDIKBUD 49/2014 diberlakukan. Pembicara dengan lugas dan tegas menanggapi pertanyaan-pertanyaan sehingga dapat diterima oleh peserta seminar.

Materi seminar:

1. Prof. Dr. Made Budiarsa, MA

2. Dr. Ir. Illah Sailah, MS

Tawaran Beasiswa Tingkat Master Degree (S2) di Masdar Institute Of Science and Technology, Abu Dhabi, UEA

Berdasarkan Faksimi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia Abu Dhabi disampaikan hal sebagai berikut:

Masdar Institute of Science and Technology melalui surat yang disampaikan Dr. Lamya N Fawwaz, Executive Director of Public Affairs menyampaikan tawaran beasiswa kepada 10 (sepuluh) siswa terbaik Indonesia yang berminat mendapatkan beasiswa tingkat master (S2) di Masdar Institute of Science and Technology (MIST) untuk periode fall 2015

Pada tahun 2015, selain delapan program master yang telah terakreditasi pada bidang Science and Engineering dan interdisciplinary PhD program, Masdar Institute menambah program master baru pada bidang Sustainable Critical Infrastructure bersama dengan program yang ditawarkan antara tain yaitu; Engineering system and management, computing and information science, material science and engineering, mechanical engineering, water and environmental engineehng, electrical power engineering, chemical engineering dan lainnya.

Bagi siswa yang memenuhi persyaratan akan memperoleh beasiswa penuh beserta fasilitas penunjang Iainnya dengan persyaratan kelulusan S1 bidang studi relevan dengan program yang ditawarkan, GPA, TOEFL, GRE kompetitif, recommendation letter dll. Informasi lebih lanjut mengenai beasiswa MIST dapat di akses melalui situs MIST: www.masdar.ae ; tel: +971-2-8109333; fax: +971-2-8109901

Aplikasi dapat dikirimkan melalui e-mail KBRI Abu Dhabi: kbriabd@indonesianembassy.ae atau indoemb@emirates.net.ae ditujukan kepada Fungsi Pensosbud KBRI Abu Dhabi dengan melampirkan seluruh persyaratan yang ditentukan.

MIST merupakan lembaga pendidikan di bidang sains dan teknologi merupakan centerpiece, sebuah proyek yang dibangun pemerintah Abu Dhabi untuk mempersiapkan energi alternate. Kampus MIST berlokasi di Masdar City, sebuah kota baru yang menerapkan “zero carbon” pertama di dunia.

MIST bekerjasama dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT), sehingga lulusan MIST akan menerima sertifikat MIT yang menyatakan kesetaraan akademik antara MIST dengan MIT.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, mohon bantuan pihak terkait agar program beasiswa ini dapat diteruskan kepada perguruan tinggi di Indonesia untuk menjaring siswa terbaik Indonesia mengikuti proses seleksi penerimaan di Masdar Institute.

Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

tawaran-beasiswa-S2-MIST-abu-dhabi

Sumber: http://www.dikti.go.id

Maria Matildis Banda : Tradisi Lisan Sa Ngaza Dalam Ritual Adat dan Ritual Keagamaan Etnik Ngadha di Flores

Etnik Ngadha di Flores memiliki berbagai tradisi lisan. Salah satu tradisi lisan yang terkenal adalah tradisi lisan Sa Ngaza (TLS). TLS berbentuk puisi lisan. TLS diwartakan dalam ritual adat (RA) yang berkaitan dengan idenitas asal usul ebu nusi (leluhur), bhaga (rumah kecil simbol leluhur perempuan) serta nua (kampung). Kenyataan sekarang globalisasi mempertemukan agama dan adat dengan berbagai dinamika. Ada kecenderungan TLS lebih subur hidup dalam ranah agama dibandingkan dalam ranah adat. TLS dalam ritual keagamaan (RKA) misalnya wo’o Sa’o Dewa (pemberkatan Gereja) mengadopsi langsung TLS dalam RA ka sa’o (pemberkatan rumah adat).

Relasi inkulturatif adat dan agama melahirkan pertanyaan problematik dan tujuan yang menarik untuk diteliti yaitu bagaimana hakikat, fungsi, makna, dan pewarisan TLS. Teori yang digunakan adalah teori formula, teori semiotik, dan teori praktik, khusunya praktik modal. Ketiga teori tersebut dimanfaatkan secara ekliktik dengan dukungan teori lainnya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan paradigma penelitian kajian budaya.Berdasarkan latar belakang, rumusan masalaha, tujuan, teori, dan metode penelitian dapat disimpulka bahwa Sa Ngaza memiliki pola formula dalam matra yang sama. Formula katagori III (bab penutup). Formula ini mendukung proses transmisi Sa Ngaza sebagai sebuah tradisi lisan sehingga mori Sa Ngaza (pewarta Sa Ngaza) dapat menjaga kontinuitas TLS. Pola Formula ini memudahkan Sa Ngaza hadir dalam RKA. Kategori I dan III mengungkapkan keunikan bunyi vokal Sa Ngaza sebagai “mantel” bahasa yang menentukan makna, memiliki posisi superordinat, dan memegang posisi otoritas. Kondisi ini mengesankan TLS sebagai puisi lisan adalah musik vokal yang ditandai ritme dan nada.

Fungsi estetika, pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, serta sosial ekonomi menjelaskan bahwa teks lisan Sa Ngaza ada jika ada ritual. Ritual ada jika para hierarki kepemimpinan menciptakan ruang untuk menghadirkannya. Hal ini menegaskan bahwa TLS bukan hanya hakikat nilai-nilai sastra lisan, tradisi lisan, dan kebudayaan, tetapi juga modal budaya, modal inkulturasi, dan parrhesia (berkaitan dengan berbicara dan kebenaran) menempatkan TLS dan transmisi kelisanan, komposisi, dan performance ditentukan oleh mori Sa Ngaza tidak terlepas dari  keluarga dan kepemimpinan didalamnya. Pewarisan TLS secara umum dapat dilakukan melalui kelarga dan masyarakat, institusi agama, dan pendidikan.

Temuan penting dalam penelitian ini adalah matra dalam formula Sa Ngaza mendukung transmisi TLS. Berbagai modal yang dimiliki, adalah jalan bagi hierarki kepemimpinan, menentukan keberlanjutan tradisi. Dalam pandangan globalisasi dan posmodernisme, agama ( global) dan adat (lokal) dapat saling berkomunikasi dan dapat pula saling mendominasi. Pendalaman hakikat, fungsi, makna, dan sistem pewarisan yang terencana dapat membangun jembatan komunikasi yang inkulturatif. (pps.unud/bd)